Mereka Menyebut Dirinya Pahlawan
2014
Rama ketika itu berumur 19 tahun,
ia mengenakkan celana jeans, kaus berwarna cokelat dan membawa ransel besar
yang telah kusam. Ia berjalan melewati sebuah gang disalah satu daerah kumuh di
Jakarta. Mengamati para orang tua itu menenggak minuman dari botol berwarna
hitam sambil bermain kartu. Ia terus berjalan,tapi pandangannya terhenti ketika
ia bertatapan dengan salah satu pemain kartu berambut panjang yang dikuncir
seperti buntut kuda. Ia segera mengalihkan pandangannya dan terus
berjalan,mempercepat langkah kakinya agar tidak menjadi pusat perhatian.
Jakarta merupakan tempat
mewujudkan impian bagi beberapa orang. Begitu banyak kesempatan berada dikota
ini, pemusatan ekonomi yang dilakukan pemerintah menjadikan banyak orang
berbondong-bondong mencoba peruntungannya dikota ini, akibatnya mereka yang
kalah dalam persaingan memperebutkan kesempatan itu harus memutar otak untuk
membuat kesempatan mereka sendiri.
Kesempatan itu ada yang dibuat dengan tujuan bermanfaat bagi orang lain,
atau bahkan dengan cara memanfaatkan orang lain. Terkadang,kebutuhan mendesak
kita berperilaku tak masuk akal, tak lagi memikirkan penilaian orang lain, dan
cuma berusaha memenuhi ego masing-masing.
2012
Doni, Eko dan Pras ketika itu
masih mengenyam pendidikan berlabelkan seragam abu-abu. Sama seperti
kepribadian anak seumurannya yang memang masih abu-abu, mereka dihadapkan
kepada pilihan untuk menjadi putih atau hitam. Mereka berkumpul disalah satu
warung modern yang menjadi tempat nongkrong populer saat itu. Sambil menenggak
minuman beralkohol import dan menghisap sebatang rokok putih mereka
bercakap-cakap seperti halnya seorang pejabat bersih yang menginginkan
negaranya bebas dari korupsi, menekan laju pertumbuhan ekonomi dan memiliki
sumber daya manusia yang baik. Ya, mereka baru berusia 17 tahun dan bahkan
belum menghadapi Ujian Nasional. Suguhan berita ditelevisi, surat kabar dan
portal berita elektronik menjadikan masalah pemerintah jadi konsumsi rutin
mereka. Media membuat permasalahan yang dihadapi pemerintah seakan menjadi permasalahan
rakyatnya juga. Tak heran jadi banyak orang yang sok mencampuri berbagai
permasalahan tersebut tanpa mau membantu menyelesaikannya.
“Eh banyak
banget koruptor yang tertangkap ya?” Doni membuka obrolan.
“Ahh yang
ketangkep kan cuma bawahannya aja, kan kita gak tahu kalo ternyata dia Cuma disuruh”
Cela Pras.
Eko yang
ketika itu sedang sibuk dengan ponsel importnya tidak mau menanggapi obrolan
kedua temannya, ia lebih sibuk berdiskusi dengan teman-teman di jejaring
sosialnya yang belum lama ia kenal. Beberapa orang memang lebih memilih menjaga
silaturahminya dengan orang yang jauh ketimbang yang ada didepan matanya,
mendekatkan yang dekat katanya.
Beberapa
makhluk anti sosial bisa berubah 180 derajat karna teknologi, bisa mengubah
apapun kecuali latar belakang. Mereka bisa saja berfikiran seperti halnya
pejabat partai politik di gedung hijau, tapi mereka tetaplah pelajar yang punya
kewajiban datang setiap pagi dan memakai seragam sesuai aturan. Sibuk
berbincang mulai dari pejabat korup sampai supir angkutan umum yang memperkosa
penumpangnya tiba-tiba saja Eko menggebrak meja.
“Kayanya
bakalan asyik kalo kita bikin sesuatu supaya kita kelihatan keren nih” Kata Eko.
“Halah mau
bikin apa sih lu? Emang kita punya bakat apaansih? Hah!!!” Cela Pras.
“Kita bikin
organisasi semacam mafia, tapi mafia kan biasanya mengambil keuntungan dari
orang lain, nah kita kebalikannya” Tambah Eko.
“Untungnya
buat kita apaan? Jangan kebanyakan menghayal, gausah sok mau ngebantu orang deh”
Doni dengan nada rendah menimpali omongan Eko.
“Yah jangan
pikir untungnya dulu, tapi kebanggaannya. Masa elo gamau sih dihormatin sama
adek kelas? Supaya kita kelihatan keren aja dimata orang lain” Dengan semangat
seperti Wikana(Tokoh pejuang golongan muda dalam usaha memproklamirkan
Kemerdekaan RI) Eko meyakinkan teman-temannya.
Akhirnya
mereka sepakat membentuk organisasi mafia mereka, berbekal tontonan film luar
negeri, mereka akhirnya melabeli organisasi mafia tersebut dengan nama sekawan
pahlawan. Mereka mendisukusikan hal-hal yang akan mereka lakukan esok hari
disekolah. Mereka berangan-angan selayaknya mereka akan menghentikan dominasi Negara
paman sam atas PT.Free Port di tanah Papua. Hal yang amat tak mudah dilakukan
oleh pemerintah beberapa generasi sebelumnya sekalipun. Tapi mereka meyakini
jika memulai melakukan kebaikan untuk orang lain adalah bentuk awal mendapatkan
rasa hormat orang lain, karna bagaimanapun kebaikan didunia hanya akan dibalas
dengan dua hal: Imbalan berupa harta atau penghormatan dari orang lain. Banyak
orang melabeli dirinya dengan orang baik, tapi sebenarnya mereka lebih mudah
berperilaku yang menyulitkan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar