Kita adalah juara, tak ada yang dilahirkan untuk gagal. Hanya
saja banyak yang berhenti mencoba dan akhirnya menyerah pada tantangan.
Menyerah adalah bunuh diri bagi tentara didalam perang, tertangkap bagi para
penjahat, kalah bagi mereka yang bertanding. Hal itulah yang membuat hasil
akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Berusaha bukanlah hal mudah,
semua orang tahu banyak pengorbanan didalamnya. Pengorbanan tanpa totalitas
malah bisa membuat hasil akhirnya lebih buruk.Tapi siapa yang peduli dengan
prosesnya kalau hasil akhirnya diTuhankan? Cuma segelintir dari mereka yang
punya cukup kompetensi untuk bisa tetap berusaha mengubah hasil akhir.
Makin banyaknya sumber daya dan sedikitnya peluang
mengakibatkan kompetisi dari berbagai lini. Semua makhluk hidup saya pikir
melakukannya, untuk apa? Agar mereka tetap bisa berada didalam siklus
kehidupan. Tumbuhan berkompetisi untuk bisa bermanfaat, agar mereka tidak
ditinggalkan dan akhirnya punah. Hewan saling berkompetisi untuk tetap hidup,
memangsa dan melindungi dirinya dari pemangsa lain agar mereka tetap bisa
menjaga eksistensinya. Semua makhluk hidup juga melakukan evolusi agar bisa
beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Lantas kenapa kita enggan untuk
melakukan percobaan baru agar bisa menjadi yang terdepan dalam kompetisi
kehidupan ini?
![]() |
| sumber : wikipedia |
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna ditata surya ini adalah penopang dan penentu siklus kehidupan lanjutan. Mungkin banyak yang beranggapan takdir adalah ancaman, tapi bukankah takdir bisa diubah dengan sebuah usaha? Bukankah kita diberi kesempatan untuk menentukkan takdir yang kita inginkan? Bahkan Tuhan saja memberi kesempatan bagi manusia untuk mengubah takdirnya, mengapa masih saja merelakan kesempatan yang diberikan?
Kita sudah memulai kompetisi dari dalam rahim, dan akan
mengakhirinya sampai kesempatan itu kita serahkan kepada pemiliknya. Begitu
banyak kompetisi yang kita hadapi, sadar atau tidak hal itu yang membentuk pola
pikir dan perilaku kita untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Terus begitu
sampai kita dihadapkan kepada kematian. Kompetisi mengajarkan kita untuk
belajar cara untuk memenagkannya. Tentu semua mau jadi pemenang, tapi pemenang
adalah dia yang punya kemampuan mengatasi dirinya dan apa yang dilawannya.
Mereka yang menang adalah mereka yang belajar, mereka telah belajar
memperbaiaki kelemahan dari kompetisi sebelumnya hingga akhirnya mereka bisa
menutup celah kelemahan yang mereka miiki dan akhirnya mereka tak terkalahkan.
Kelemahan kita ada dari dalam diri kita. Iri, dendam,
meremehkan dan ceroboh yang akan membuat kita terlalu berkutak dengan apa yang
akan kita hadapi. Bukan mencoba untuk menghadapinya,malah hanya berfikir tanpa
melakukan hal lain. Tak ada yang salah dengan berikir, tapi kalau berfikir
tanpa berbuat sesuatu hasil pemikiran kita hanya akan jadi beban yang
membelenggu potensi yang kita miliki.
![]() |
| sumber :daveberns.wordpress.com |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar