Sabtu, 10 Januari 2015

Kompetisi Mengasah Potensi


Kompetisi Mengasah Potensi


sumber : suzannita.wordpress.com



Kita adalah juara, tak ada yang dilahirkan untuk gagal. Hanya saja banyak yang berhenti mencoba dan akhirnya menyerah pada tantangan. Menyerah adalah bunuh diri bagi tentara didalam perang, tertangkap bagi para penjahat, kalah bagi mereka yang bertanding. Hal itulah yang membuat hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Berusaha bukanlah hal mudah, semua orang tahu banyak pengorbanan didalamnya. Pengorbanan tanpa totalitas malah bisa membuat hasil akhirnya lebih buruk.Tapi siapa yang peduli dengan prosesnya kalau hasil akhirnya diTuhankan? Cuma segelintir dari mereka yang punya cukup kompetensi untuk bisa tetap berusaha mengubah hasil akhir.
Makin banyaknya sumber daya dan sedikitnya peluang mengakibatkan kompetisi dari berbagai lini. Semua makhluk hidup saya pikir melakukannya, untuk apa? Agar mereka tetap bisa berada didalam siklus kehidupan. Tumbuhan berkompetisi untuk bisa bermanfaat, agar mereka tidak ditinggalkan dan akhirnya punah. Hewan saling berkompetisi untuk tetap hidup, memangsa dan melindungi dirinya dari pemangsa lain agar mereka tetap bisa menjaga eksistensinya. Semua makhluk hidup juga melakukan evolusi agar bisa beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Lantas kenapa kita enggan untuk melakukan percobaan baru agar bisa menjadi yang terdepan dalam kompetisi kehidupan ini?

sumber : wikipedia

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna ditata surya ini adalah penopang dan penentu siklus kehidupan lanjutan. Mungkin banyak yang beranggapan takdir adalah ancaman, tapi bukankah takdir bisa diubah dengan sebuah usaha? Bukankah kita diberi kesempatan untuk menentukkan takdir yang kita inginkan? Bahkan Tuhan saja memberi kesempatan bagi manusia untuk mengubah takdirnya, mengapa masih saja merelakan kesempatan yang diberikan?
Kita sudah memulai kompetisi dari dalam rahim, dan akan mengakhirinya sampai kesempatan itu kita serahkan kepada pemiliknya. Begitu banyak kompetisi yang kita hadapi, sadar atau tidak hal itu yang membentuk pola pikir dan perilaku kita untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Terus begitu sampai kita dihadapkan kepada kematian. Kompetisi mengajarkan kita untuk belajar cara untuk memenagkannya. Tentu semua mau jadi pemenang, tapi pemenang adalah dia yang punya kemampuan mengatasi dirinya dan apa yang dilawannya. Mereka yang menang adalah mereka yang belajar, mereka telah belajar memperbaiaki kelemahan dari kompetisi sebelumnya hingga akhirnya mereka bisa menutup celah kelemahan yang mereka miiki dan akhirnya mereka tak terkalahkan.
Kelemahan kita ada dari dalam diri kita. Iri, dendam, meremehkan dan ceroboh yang akan membuat kita terlalu berkutak dengan apa yang akan kita hadapi. Bukan mencoba untuk menghadapinya,malah hanya berfikir tanpa melakukan hal lain. Tak ada yang salah dengan berikir, tapi kalau berfikir tanpa berbuat sesuatu hasil pemikiran kita hanya akan jadi beban yang membelenggu potensi yang kita miliki.

sumber :daveberns.wordpress.com
Dengan menutup celah kelemahan kita akan membuat sebuah kekuatan untuk menjadi bekal menghadapi setiap tantangan. Tak ada yang selalu berhasil, keberuntungan pun tak bisa mengubah hasil kalau tak ada kesiapan. Keberuntungan hanya akan berlaku jika kesempatan yang kita  miliki dimanfatkan denga kemampuan dan kesiapan. Teruslah mencoba, karna keberhasilan adalah percobaan yang dimatangkan berdasarkan kegagalan dari percobaan sebelumnya. Mari berkompetisi dengan tidak menjatuhkan orang lain, karna tanpa kompetitor takkan ada yang disebut pemenang. Dan keberhasilan kita tidak pernah bisa direngkuh karna hanya kita seorang, ada yang terlibat didalamnya. Mulailah bersikap baik kepada siapapun yang mencoba memberikan ilmunya, karna jika kita menolak kebaikan orang kelak kita akan mengemis untuk mendapatkannya dikesempatan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar