MENGHARAPKAN PERHATIAN
Kebisingan
suara di jalan-jalan Jakarta bagaikan suara penonton konser yang meminta
penampilnya membawakan bonus performance. Tak ayal budaya timur yang melekat
kental kepada masyarakat seakan luluh-lantah, pergi menghilang tanpa kabar.
Semua punya kesibukkan masing-masing dan memprioritaskan diri sendiri tanpa
toleransi. Seorang wanita tua duduk ditepi trotoar sambil menadahkan sebuah
mangkuk kecil dan menatap setiap orang yang lalu-lalang dijalan. Adakah yang
peduli? Beruntung selalu ada orang-orang yang iba melihat ketidak beruntungan
seseorang dan menyisihkan uang mereka untuk wanita tua tesebut. Tapi orang seperti
itu tidaklah banyak, karena kebanyakan orang mengannggap dirinya selalu
kekurangan untuk berbagi tapi selalu merasa cukup untuk membeli barang-barang
mewah.
![]() |
| Image by : Google |
Indonesia saat
ini sedang rajin diguyur hujan, terutama Jakarta. Sebenarnya hujan bukanlah
musibah, tapi karena ulah manusia yang mementingkan kehidupan mereka sendiri
jadilah hujan lebat sebagai masalah tersendiri yang selalu diagendakan tiap
tahun oleh masyarakat dan pemerintah. Sebuah siklus tahunan yang terencana,
tapi masih belum terselesaikan. Hal yang agak aneh karena kita sebagai manusia
bisa merencanakan musibah. Tentu saja musibah yang kita buat sendiri, dan
ditanggung juga oleh orang lain. Selama bertahun-tahun tinggal diJakarta
masyarakatnya masih saja ada yang mengeluh soal keadaan Jakarta. Terutama
masalah banjir, mereka menghambur-hamburkan air tanah dimusim kemarau. Membuang
sampah di saluran air didekat rumah, sengaja pergi keMall di hari Kerja bakti
lingkungan dan masih mau menetap didaerah yang menjadi langganan banjir. Tapi
mereka selalu mengeluh kepada pemerintah terkait atas banjir yang menggenagi
area lingkungan tempat tinggal mereka. Logikanya kalau kita menanam pohon tanpa
dirawat apakah pohon tesebut akan jadi besar dan bermanfaat? Lalu ketika pohon
tersebut mati dan kita protes terhadap Tuhan, apakah Tuhan akan menjadikan pohon
tersebut menjadi yang kita inginkan?
![]() |
| Image by Google |
Terkadang kita
terlalu angkuh sebagai manusia, menjadikan kita lalai akan masa depan. Berfikir
singkat dan berusaha secara instant. Memperingkas tak selalu efektif untuk
semua hal, dan biasanya yang dihilangkan dalam proses peringkasan tersebut
adalah bagian-bagian sulit yang butuh waktu panjang. Mengakibatkan lupa kalau
manusia itu berkembang biak dan bumi itu tidak. Ya banyak yang lupa kalau Albert
Einstein dan Sir Isaac Newton sudah wafat sangat lama. Kita lupa atau mungkin
belum sadar kalau aka nada terus bayi mungil yang lahir didunia ini dan butuh
tempat tinggal. Kalau yang kita lakukan saat ini untuk membuat nyaman hidup
kita saja maka kembalilah berfikir apakah kita sudah siap untuk jadi generasi
terakhir dari garis keturunan umat manusia?
![]() |
| Image by: Google |
Mengeluh adalah
hal termudah yang bisa semua orang lakukan, mungkin sudah menjadi hobi bagi
beberapa orang. Tapi apakah yang didapat setelah kita mengeluh? Bagaimanapun
cara anda mengeluh hanya akan membuat anda dikasihani orang lain, dan takkan
pernah berlangsung secara kontinu karna selalu ada titik jenuh. Sama halnya
seperti kemacetan yang bukannya teselesaikan malah selalu ada masalah baru.
Jenuh dengan kemacetan? Lalu apa yang kita lakukan? Berfoto ria dan
mempublikasikannya kepada pihak terkait? Atau marah-marah terhadap petugas yang
mencoba mengurai kemacetan? Apakah dengan semua tindakan tersebut macet akan terurai? Apakah seketika semua
kendaraan menghilang dan anda bisa melenggang santai sampai ketempat tujuan?
![]() |
| Image by Google |
Kalau anda
mengeluhkan kemacetan tapi tidak mau mengubah kebiasaan anda dalam berpergian
maka jalanan yang lancar dan teratur seperti yang anda harapkan tidak akan
terwujud. Anda berfikir biarlah orang lain yang mengubah kebiasaannya dulu,
menunggu orang lain bertindak sesuatu terlebih dahulu. Maka sampai kapanpun Indonesia
akan terus mengimpor minyak yang harganya terus melonjak, sampai entah kapan
selalu ada yang berdemo menolak kenaikkan BBM bersubsidi.
Manfaatkan fasilitas yang disediakan,
patuhilah peraturan yang sudah dengan susah payah dibuat demi kenyamanan
masyarakat. Memqng hal tersebut tidak menjamin apa yang anda harapkan terwujud,
tapi bukankah adil jika kita sering menuntut kepada pemerintah yang kita anggap
sebagai pelayan masyarakat kemudian kita membalasnya lebih dari sekedar
membayar pajak. Membantu setiap program-program pemerintah, yang tentunya kita
seleksi dahulu sesuai dengan pola pikir dan hidup kita masing-masing. Bukankah
nyaman jika rakyat dan pemerintahnya saling berkontribusi untuk mewujudkan
cita-cita bangsa yang dahulu diperjuangak mati-matian oleh para pahlawan.
Tak ada lagi
yang harus diminta jika semua sudah tercukupi, tak perlulah menuntut sesuatu
yang diluar kemampuan dan akal sehat. Balaslah sesuai dengan kemampuan atas
tiap tindakan yang orang lain lakukan, berbuat baik memang sulit tapi itu amat
menyenangkan. Dan bukankah kesenangan yang kita cari selama hidup didunia?
Jadilah pembeda disetiap kehadiranmu.
q.jpg)
1.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar