Sabtu, 27 Juni 2015

Pencitraan Bukan Hanya Milik Politisi

    Cuma sedikit manusia yang rendah hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Tapi terlalu banyak orang yang menyebut dirinya demikian. Miris memang, kita suka mengemas diri kita dengan ekspetasi, bukan realita yang memang jadi identitas diri. Walaupun banyak motivator terlalu sering mengatakan "Jangan menilai dari covernya" tapi kenyataannya sebagian manusia tidak setuju dalam argumen tersebut, toh beberapa orang sibuk mengemas dirinya sebaik mungkin. Alasan yang menurut saya logis adalah karna sebagian manusia lainnya yang masih beranggapan bahwa kalau kemasannya menarik pasti isinya juga bakal asyik. Apalagi ketatnya persaingan ekonomi menyebabkan semua harus berlomba, menganggap yang lain adalah kompetitor. Merasa tanpa partner dan akhirnya cuma bisa bersaing.  
      Manusia harus produktif, inovatif dan kreatif. Ada yang memilih memproduksi kreativitasnya sendiri ada pula yang mau membantu orang lain memproduksi inovasinya. Namun, tak semudah ekspetasi yang diproyeksikan para pakar terdahulu. Pertumbuhan populasi manusia yang pesat membuat persaingan untuk bisa memperoleh kebutuhan tersier menjadi semakin kompetitif. Tentu sifat dasar manusia sebagai makhluk yang tidak pernah puas punya peran penting dalam mengemas dirinya agar bisa menjadi kompetitor unggulan. 
      Dalam era moderen seperti sekarang ini manusia tidak hanya saling menjual sekantung gabahnya kepada tetangga sebelah rumah saja. Saat ini kita bisa menikmati kelezatan ikan Salmon yang hanya hidup diperairan dingin. Padahal kita tinggal didataran tropis. Lantas kenapa harus repot-repot menjajakan hasil bumi ke dataran yang jauh dari pandangan, dibatasi perairan nan jauh disana? Bisa saja karna terlalu banyak yang menjajakan barang yang sama, mungkin kalian bisa sambil mengingat pelajaran di waktu sekolah dulu tentang tingginya permintaan akan berbanding lurus dengan harga jualnya. 
    Nah siapa yang berminat membeli barang rusak dengan harga yang tinggi, padahal ada banyak penjual yang menjajakan barang tersebut dengan kualitas barang yang lebih bagus? Kalau ada yang mau bisa jadi cuma karna kasihan, kasihan dengan kondisi penjualnya dan berharap setelah membeli akan ada segerombolan orang membawa kamera dan mikrofon datang untung sekedar bertanya-tanya. MUNGKIN! Hanya kemungkinan, hidup ini penuh dengan ketidak pastikan bukan? ;) Lumrahnya kita menyukai barang bagus, pemandangan indah, dan penampilan menarik. Kalau kalian tidak menyukai salah satu dari ketiganya saya sarankan kalian berdo'a agar bisa reinkarnasi ke zaman prasejarah. Karna sifat dasar manusia yang seperti itu sepertinya bakal terasa naif jika kita bersua "Jangan lihat hanya dari covernya". Karna manusia penyuka keindahan akan sangat menyenangkan jika banyak keindahan yang memanjakan mata.
        Yang terlihat tidak selalu jadi kebenaran. Saya memulai mengemas diri saya menjadi lebih bernilai jual kepada setiap HRD yang saya temui. Karna saya tau, dia juga manusia seperti miliaran lainnya yang menyukai keindahan. Tapi, saya selalu mencoba mengemas diri saya agar sesuai dengan isinya. Agar tidak ada ekspetasi yang terlalu tinggi. Kemasan yang berlebihan akan menjadi pisau bermata dua yang mata pisaunya lebih tajam dibagikan dalam. Walaupun saya tidak yakin semua orang punya prinsip yang sama seperti saya, dan sepengetahuan saya hanya sedikit yang punya kesamaan pemahaman soal bagaimana kemasan itu menentukkan kepuasan. 
       Begitu banyak orang yang lebih menyukai mencitrakan dirinya ketimbang meningkatkan kualitas kapasitasnya. Dan yang membuat saya miris adalah orang-orang seperti ini berasal dari mereka yang punya kesempatan mengenyam pendidikan tingkat lanjut. Apa hal seperti ini termasuk berbohong? Mmm, biar Tuhan saja yang menentukkan. Bukankah manusia belum berhak menghakimi manusia lainnya ;) 
      Kebenaran akan selalu terungkap, tanpa harus dipaksakan menictrakannya. Akan jauh lebih mengasyikkan jika isinya lebih menarik dari kemasannya, karna kemasan mungkin hanya jadi pajangan atau malah terbuang. Ekspetasi tinggi membuat prestasi jadi hal biasa yang cuma dianggap tradisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar