Jumat, 12 Februari 2016

Yang Membuat Permasalahan Ada Ternyata Kita Sendiri

       Pernahkah kalian mengalami stuck dalam menghadapi masalah kalian? Berbagai tipe manusia ternyata bisa diidentifikasi dari caranya menyelesaikan masalahnya. Tapi kali ini gue bukan mengulas hal seperti itu. Tulisan kali ini merupakan keluh-kesah yang gue alami dalam beberapa waktu ini.
      Semua orang pasti punya masalah. Dan menurut Wikipedia : Masalah (bahasa Inggris: problem) kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.[1] Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.[2] Umumnya masalah disadari "ada" saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Dalam beberapa literatur riset, masalah seringkali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.
       Dan menurut gue, masalah itu adalah momen dimana yang kalian kehendaki tidak terjadi. Dan untuk mewujudkan hal yang kita kehendaki dibutuhkan penyelesaian dengan mengambil tindakan denga resiko terkecil. Mungkin lebih dikenal dengan "win-win solution". Meski nyatanya harus ada yang dikorbankan. Siapapun pasti menginginkan permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan waktu yang singkat dan dengan resiko terkecil, akan tetapi kesiapan akan jadi kunci penyelesaiannya. Disinilah saatnya kita menjadi teoritis, berdasarkan banyaknya ilmu yang kita pelajari akan menjadikannya pengalaman yang menyenangkan bukan?
       Dalam beberapa hal masalah bisa saja dihindari, dengan kesiapan dan kecermatan yang maksimal seharusnya hasilnya akan sesuai perencanaan. Tapi dalam beberapa kejadian persiapan yang matang bisa saja menemui kendala dalam prosesnya. Inilah momen dimana apa yang kita pelajari akan diuji, dan ini adalah waktu yang tepat untuk kita mengetahui kemampuan diri. Sejauh mana hal-hal yang kita pelajari dapat berguna bagi kehidupan kita sendiri, dan bisa membuat diri kita memfillter hal-hal apa saja yang butuh kita pelajari lebih intens. Karena kesempatan tanpa kesiapan tidak akan jadi keberuntungan bukan?
      Dan satu hal yang menurut gue bisa membuat masalah bertambah rumit adalah sifat kita yang menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya, yaitu egoisme. Inilah yang menurut gue bisa memunculkan bahkan merumitkan masalah itu sendiri. Pernahkah kalian berada di kemacetan yang parah? Pasti semua yang tinggal di Jakarta sudah menjadikan ini sebagai rutinitas dalam hidupnya. Kecuali kalian adalah pengguna setia kendaraan yang  biasa parkir di Helipad. Menurut pengamatan sok tau yang gue lakukan, kemacetan di Jakarta bisa saja mudah terurai asalkan semua patuh dan taat pada peraturan. Namun, yang taat dan patuh pada peraturan hanyalah robot, sedangkan kita (manusia) dengan sifat toleransi yang tinggi akan membiarkan pelanggaran kecil dikehidupan  kita menjadi bukan pelanggaran. Dan nampaknya semua berpikiran sama dan jadilah pelanggaran kecil ini dilakukan banyak orang dan jadilah kemacetan.
      Pernah terfikir mengapa sampai saat ini masalah kemacetan belum teratasi meski sudah banyak solusi yang dilakukan oleh pihak terkait? Mari tanyakan pada diri sendiri apakah kalian tidak berminat untuk menambah jumlah kendaraan dijalanan Jakarta dengan salah satu kendaraan milik kalian? Atau kalian bisa tanyakan pada diri kalian seberapa betahkah kalian berkendara di jalanan Jakarta? Apakah kalian tidak tergoda sedikit melanggar tata cara dan peraturan berlalu-lintas demi cepat-cepat sampai ditempat tujuan kalian?
       Tulisan ini merupakan keluh-kesah yang gue alami, tanpa ada maksud menyinggung orang lain atau pihak tertentu.
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar