Selasa, 17 Februari 2015

Jangan Kacaukan Negeriku

Jangan Kacaukan Negeriku
Yang muda yang berbahaya. Bahkan Proklamator Republik Indonesia Bapak Insinyur Soekarno berujar “Berikan aku sepuluh pemuda,maka akan kugoncang duinia”. Jelas pemuda begitu amat berbahaya karena dalam usia produktif itu ada gejolak nafsu, semangat dan keinginan kuat dalam setiap diri manusia yang membuat akal sehat kaum tua seperti punting rokok diasbak. Usia muda adalah titik awal pembentukkan identitas manusia untuk menuju titik puncak atau jadi penghuni jurang keputus asaan. Begitu banyak prestasi yang bisa ditorehkan manusia ketika usianya muda, begitu menyenangkan ketika keberhasilan itu datang. Dan begitu hancur ketika kegagalan itu harus memilihnya sebagai alur cerita hidup manusia.

Mengapa ketika masih kecil kita sangat senang ketika berhasil memenangkan sebuah permainan “Galasin/gobak sodor” dilapangan dekat rumah bersama teman sebaya?

Image : www.triptrus.com
 Mengapa yang kalah tidak sesedih Lionel Messi ketika Argentina kalah di final Piala dunia 2014 di Brazil?
Image :  Bao Tailiang
 Saya merasa ketika kecil proses itu lebih penting ketimbang hasilnya.Ya walaupun institusi pendidikan di Negara ini tidak berfikir sama seperti saya. Ketika usia anak-anak kita tidak terlalu memikirkan nilai raport, tapi apakah orang tua kita berfikiran sama seperti anaknya? Hanya sebagian orang tua yang berfikir sepert itu. Sisanya menekankan HASIL raport yang terbaik, untuk apa? Kemungkinan besar untuk dipamerkan kepada orang tua lainnya. Membuat anak menjadi tertekan karena tak bisa menikmati prosesnya dan memaksakan hasil akhirnya saja, padahal dibalik itu ada proses panjang yang perlu diapresiasi. Tapi apakah hasilnya selalu bisa mengapresiasi prsesnya? Tentu tidak, sudah ada nepotisme didalmnya. Nepotisme yang menjadikan proses hanya sebagai penghias hasil. Sejak saat itulah kita mungkin terbiasa mengindahkan proses dan menekankan hasilnya. Turun-temurun dan membudaya dan akhirnya menjadi kebiasaan yang lumrah. Dan akhirnya kita akan menyalahkan orang yang mempunyai idealis tinggi terhadap proses.
Kenakalan adalah kesalahan yang didasari keingin tahuan, sebuah proses yang diberi toleransi tinggi dikehidupan bersosial. Lain hal kalau labelnya sudah menjadi kejahatan, toleransi yang tadinya selalu menemani seakan bersikap acuh. Sebuah proses yang mirip antara kenakalan dan kejahatan, hanya hasilnya saja yang membedakan. Mengapa kita selalu berpatokan dengan hasil? Mengapa harus menunggu hasilnya kalau kita tahu prosesnya sudah tidak baik? Jawabannya sama seperti orang tua yang ingin membanggakan nilai raport anakanya didepan orang tua murid lainnya. Kalau saja “Mencegah lebih baik daripada mengobati” tak hanya kita terapkan untuk kesehatan, maka penghakiman didunia oleh manusia tidak perlu serepot preman yang  melaporkan kejahatan kekantor kepolisian. Nampaknya menghakimi adalah kepuasaan bagi mereka yang haus akan kekuasaan, mereka bagai Tuhan yang bisa menghakimi ciptaan-NYA.
Image : wiji-thukul.blogspot.com

Kita hidup terdidik oleh kebiasaan bodoh yang diturunkan oleh penjahat berdasi yang menghakimi sesamanya. Mereka ingin pemuda tak bisa goyahkan kekuasaan miliknya, mereka acuhkan pembenaran atas kesalahannya. Agar mereka bisa berlama-lama berkuasa, menikmati setiap kemenangan semu atas lawan yang ingin jatuhkan. Membuat paham baru agar mereka bisa dikenang, bisa menjadi pahlawan dikemudian hari nanti. Membuat yang baik Cuma jadi penjahat dimata rakyat, dan membuat dirinya dielu-elukan bak pahlawan perang yang mengusir penjajah. Membunuh impian para pemimpi yang inginkan kesejahteraan.
Image : salt.btloc.com

Manusia memang tak seharusnya menghakimi sesama manusia, tapi orang yang merugikan orang banyak harus menyisihkan diri agar tak mewarisi  kebiasaan yang mengganggu akal sehat. Penguasa bukan berarti pemilik segalanya, mandat rakyat adalah alasan mereka bisa tertawa melihat kekisruhan yang terjadi. Semoga tak ada lagi suara yang terbungkam, semoga keinginan melawan tak hanya dimilikki mereka yang dirugikan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar