Jangan Kacaukan
Negeriku
Yang muda yang
berbahaya. Bahkan Proklamator Republik Indonesia Bapak Insinyur Soekarno
berujar “Berikan aku sepuluh pemuda,maka akan kugoncang duinia”. Jelas pemuda
begitu amat berbahaya karena dalam usia produktif itu ada gejolak nafsu,
semangat dan keinginan kuat dalam setiap diri manusia yang membuat akal sehat
kaum tua seperti punting rokok diasbak. Usia muda adalah titik awal
pembentukkan identitas manusia untuk menuju titik puncak atau jadi penghuni
jurang keputus asaan. Begitu banyak prestasi yang bisa ditorehkan manusia
ketika usianya muda, begitu menyenangkan ketika keberhasilan itu datang. Dan
begitu hancur ketika kegagalan itu harus memilihnya sebagai alur cerita hidup
manusia.
Mengapa ketika masih kecil kita sangat senang ketika berhasil memenangkan sebuah permainan “Galasin/gobak sodor” dilapangan dekat rumah bersama teman sebaya?
![]() |
| Image : www.triptrus.com |
Mengapa yang kalah tidak sesedih
Lionel Messi ketika Argentina kalah di final Piala dunia 2014 di Brazil?
![]() |
| Image : Bao Tailiang |
Saya
merasa ketika kecil proses itu lebih penting ketimbang hasilnya.Ya walaupun
institusi pendidikan di Negara ini tidak berfikir sama seperti saya. Ketika
usia anak-anak kita tidak terlalu memikirkan nilai raport, tapi apakah orang
tua kita berfikiran sama seperti anaknya? Hanya sebagian orang tua yang
berfikir sepert itu. Sisanya menekankan HASIL
raport yang terbaik, untuk apa? Kemungkinan besar untuk dipamerkan kepada
orang tua lainnya. Membuat anak menjadi tertekan karena tak bisa menikmati
prosesnya dan memaksakan hasil akhirnya saja, padahal dibalik itu ada proses
panjang yang perlu diapresiasi. Tapi apakah hasilnya selalu bisa mengapresiasi
prsesnya? Tentu tidak, sudah ada nepotisme didalmnya. Nepotisme yang menjadikan
proses hanya sebagai penghias hasil. Sejak saat itulah kita mungkin terbiasa
mengindahkan proses dan menekankan hasilnya. Turun-temurun dan membudaya dan
akhirnya menjadi kebiasaan yang lumrah. Dan akhirnya kita akan menyalahkan
orang yang mempunyai idealis tinggi terhadap proses.
Kenakalan
adalah kesalahan yang didasari keingin tahuan, sebuah proses yang diberi
toleransi tinggi dikehidupan bersosial. Lain hal kalau labelnya sudah menjadi
kejahatan, toleransi yang tadinya selalu menemani seakan bersikap acuh. Sebuah
proses yang mirip antara kenakalan dan kejahatan, hanya hasilnya saja yang
membedakan. Mengapa kita selalu berpatokan dengan hasil? Mengapa harus menunggu
hasilnya kalau kita tahu prosesnya sudah tidak baik? Jawabannya sama seperti
orang tua yang ingin membanggakan nilai raport anakanya didepan orang tua murid
lainnya. Kalau saja “Mencegah lebih baik daripada mengobati” tak hanya kita
terapkan untuk kesehatan, maka penghakiman didunia oleh manusia tidak perlu
serepot preman yang melaporkan kejahatan
kekantor kepolisian. Nampaknya menghakimi adalah kepuasaan bagi mereka yang
haus akan kekuasaan, mereka bagai Tuhan yang bisa menghakimi ciptaan-NYA.
![]() |
| Image : |
Kita hidup
terdidik oleh kebiasaan bodoh yang diturunkan oleh penjahat berdasi yang
menghakimi sesamanya. Mereka ingin pemuda tak bisa goyahkan kekuasaan miliknya,
mereka acuhkan pembenaran atas kesalahannya. Agar mereka bisa berlama-lama
berkuasa, menikmati setiap kemenangan semu atas lawan yang ingin jatuhkan.
Membuat paham baru agar mereka bisa dikenang, bisa menjadi pahlawan dikemudian
hari nanti. Membuat yang baik Cuma jadi penjahat dimata rakyat, dan membuat
dirinya dielu-elukan bak pahlawan perang yang mengusir penjajah. Membunuh
impian para pemimpi yang inginkan kesejahteraan.
![]() |
Manusia memang
tak seharusnya menghakimi sesama manusia, tapi orang yang merugikan orang banyak
harus menyisihkan diri agar tak mewarisi kebiasaan yang mengganggu akal sehat. Penguasa
bukan berarti pemilik segalanya, mandat rakyat adalah alasan mereka bisa
tertawa melihat kekisruhan yang terjadi. Semoga tak ada lagi suara yang
terbungkam, semoga keinginan melawan tak hanya dimilikki mereka yang dirugikan.

.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar