Jumat, 19 Oktober 2018

An Exciting from Through the Quarter of Life Crisis


          There are so many stories with various narratives based on living actors that illustrate how restless and anxious in facing the normal phase as intelligent beings whose passions are difficult to master. A phase that is commonly faced with a variety of effects whose implications can trigger a resurgence in the quality of life later or even melt away all the desires of life. This devastating life is a victim of environmental discomfort and a lack of trust in people around. No need to blame, this phase is very natural to be an unrealistic person. We can stand on the same land, but we cannot choose our destiny. Be strong, in fact you are not alone in facing all of this.

            Referring to WHO data in 2016 nearly 800 thousand people died worldwide due to suicide, the majority of them were 15-29 years old. This not only stops being an individual impact, but affects the psychology of family, friends, and people around. What is even more unfortunate is that 79% of these suicides occur in developing countries with low-middle income. Is it all just for money? In fact, it is not always a financial problem that is the cause of a person's life. Even some cases of financial problems are not a factor in suicide. Increased routines of life, too busy pursuing the future with the shadow of responsibility, confusion to prioritize between relationships or best friends. So it’s not surprising that there is a social media term that draws away, and keeps the close ones close.

            Busy self to pursue the future makes us indifferent to our own pleasure. Although sometimes the opposite is true, selfishness to focus too much on yourself makes us feel like we are too far away and feel alienated by the environment. When problems begin to come and are not ready to deal with it themselves, we sometimes feel reluctant to shout for help because they feel pessimistic that someone else will care. Yep, caring is something that is quite rare in the era of the reality of daily life in the real world. It may look quite massive in the digital world, but today's millennials look foreign if there are those who take to the streets to just work around the neighborhood.

           How often do you greet your friends by coming to his house suddenly, or just spontaneously calling? What's the response? What about after that? Intriguing, after passing through the phase in a circle of friends once we open ourselves to enter into other circles of friendship as if we feel alien or even alienated (in the opinion of some people) to return to greet and visit in a circle of previous friendship. Often we feel strange by our own friends even though we have been through some time together. Never mind to complain about the problems that befallen and devastate hope, just to say hello sometimes we are very shy. Alienation in the sound of happy laughter that harms the pain of despair for mutual trust.

        In a journey through a quarter life crisis, we seem to be tested to be able to practice results during the process of studying life accompanied by laughter and the attention of the people around. Like a footing for a moment to stop and look back how hard we try, and look back on whether the results are in line with expectations or just become a narration that can only be cried. We can never choose results, but in the process we seem to be embarrassed by the many choices. Don't feel too busy to just be grateful for each achievement. When you arrive in moment when that feeling disappears, that disappointment can rhyme break down what you have built with all your body.

           Even though you feel your life is hard, try to just say hello to some of your friends and ask the news. He could be in danger, the danger he made himself because he felt he did not have anyone in his life. Disappointment because being left behind can hurt deeper because guilt is negligent for your role for others. Not everyone has the same view of the problems they face, keep your role as good as possible and give them confidence because there are you by their side. The care that you devote to him will turn to you and become a strength for you in through the ebb and flow of life's ambition that you glorify.

         Be strengthened, not to brag about yourself and act stronger than the others. But at least, you can become stronger than you thought afterwards. Being fragile is natural, but don't be easily destroyed because you are too close to hearing suggestions. Listen to the sad tone in the rhythm of your life, don't feel okay if you start to be uncomfortable with how you are intimidated by the disappointing results. Shout for help, really you are not alone in facing all of this.
A word when facing my quarter life crisis, hope you better than me when facing from all this. Feel free to share your story privately. Don't let our friends give up to reach their goals, help them!

Rabu, 20 September 2017

Perkembangan Kultur Kuliner atas Keadaan Melalui Inovasi yang Adaptif





Saat ini makanan adalah komoditi yang tidak hanya menjadi kebutuhan pokok saja, sudah banyak orang yang beranggapan bahwa makan tidak hanya bertujuan untuk mengenyangkan perut tetapi memuaskan hawa nafsu. Mengkonsumsi makanan yang tadinya hanya erat sebagai kebutuhan menjadi sebuah gaya hidup melalui penerapan-penerapan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Mulai dari ditujukan untuk kesehatan, memperbaiki bentuk tubuh, hingga untuk sebuah kebanggaan. Tidak heran jika perkembangan makanan bisa berkembang sangat cepat dengan inovasi dan kreasi yang terus lahir setiap hari demi harinya.
Perkembangan dalam dunia makanan ini lahir atas tuntutan keadaan, dulu kala orang-orang membuat masakan sebagai cara bertahan hidup. Kita tahu bahwa banyak evolusi makanan mulai banyak lahir dari era peperangan. Ketika itu bahan makanan menjadi salah satu komoditi berharga selain persenjataan tentunya. Seni memasak mengalami kemajuan yang sangat pesat pada zaman raja Louis pada abad XIV sehingga resep yang tadinya dibuat berdasarkan pengalaman mulai disusun secara metodis dan menjadi suatu ilmu yang ditandai dengan munculnya bermacam-macam buku resep masakan sampai saat ini masih terus berkembang ( Setiawati, 1993:8).

Dengan berkembangnya zaman yang membuka arus informasi yang sangat luas, inovasi terhadap makanan juga semakin cepat. Metode-metode dalam pengolahan bahan makanan sudah disesuiakan dengan gaya hidup manusia dan perkembangan teknologinya. Jika di era 2500 SM manusia sudah mengenal roti sebagai hidangan untuk para raja yang diolah dengan metode memasak dipanggang (baking)  sebagai makanan mewah yang disuguhkan dalam perjamuan makan seperti yang ditemukan dalam sebuah lukisan kuno Mesir yang bercerita Itjer duduk disebuah meja makan dengan beberapa potong roti (Egyptian Museum,Turin).




 Maka disaat era modern sekarang sudah berkembang metode memasak dengan menggunakan teknologi elektronik seperti  metode memasak sousvide. Metode memasak sousvide adalah teknik memasak dengan mengisolasi nutrisi makanan menggunakan plastik vakum yang dimasak dengan temperatur yang sangat rendah dalam waktu yang lama. Metode memasak ini timbul dari sebuah permasalahan yang dialami oleh  chef Georges Pralus di tahun 1974 yang ketika itu bekerja di restaurant Troisgros di Roanne, Perancis. Ia mengalami masalah ketika harus memasak foie-gras (hati angsa) yang ketika itu sangant populer, namun dalam pengolahannya ia mengalami masalah karena makanan tersebut susut ketika dimasak. Kemudian ia mencoba bereksperimen dengan cara membungkus bahan makanannya dalam sebuah plastik yang ditutup raat dan memasukkannya dalam sebuah rendaman air hangat. (http://www.greatbritishchefs.com/features/sous-vide-history)  
Dalam arus perkembangan makanan, bangsa Tiongkok dan Italia sangat erat hubungannya dengan bahan makanan yang bersumber dari olahan gandum. Jika di Tiongkok (Cina) gandum diolah menjadi berbagai olahan mie, di italia olahan gandum yang diawetkan disebut dengan pasta. Walaupun kedua makanan tersebut juga bisa dikatakan terinspirasi dari cara pengolahan bangsa Arab (tergambar dalam lukisan kuno Mesir yang diambil dari dinding Tomb Of Menna,Luxor)
                Dalam penerapannya justru bangsa Sisilia-lah yang mulai memproduksi pasta kering dalam jumlah besar diantara abad ke-11 sampai 13 masehi menurut studi yang dilakukan oleh Emilio Milano (Academia Barilla. PASTA!. Parma : 2010 . White Star Publiher). Pengolahan gandum menjadi pasta ini tidak lepas dari sejarah perjalanan Marco Polo yang berkeliling dunia dan membawa budaya dari berbagai daerah yang ditemuinya (terutama budaya Tiongkok)  untuk diaplikasikan dengan keadaan di eropa saat itu. Dengan menguatnya produksi yang dilakukan Sisilia saat itu, pada abad ke-15 mereka sudah dapat mendistribusikan produk pastanya ke beberapa daerah dan juga sudah mengontrol harga jualnya. Produksi pasta tidak hanya dilakukan di daerah Sisilia, tetapi juga di kota Palermo, Napoli dan Genoa. Namun yang menonjol ketika itu adalah ekspor yang dilakukan oleh Sisilia dan Genoa yang sampai mengundang perhatian dari Presiden Amerika Serikat ke-3 Thomas Jefferson (1801-1809). Hingga kini produksi pasta terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang mampu mengoptimalkan produksi pasta melalui mesin-mesin yang mempermudah dan bisa menghemat biaya dan penyebarannya sudah hampir keseluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Penyebaran pasta di Indonesia dipercaya berasal dari ekspansi Belanda di abad ke-16 yang datang ke Indonesia.

Referensi : 
 
 buku : Academia Barilla. PASTA!. Parma : 2010 . White Star Publiher
 Lukisan : Slab stele from mastaba tomb of Itjer at Giza. 4th Dynasty, 2543-2435 BC. Itjer is seated at a table with  slices of bread, shown vertical by convention. Other offerings described in the text near the table are incense, fruit, and wine. Excavations 1903 by Schiaparelli, S. 1849. Egyptian Museum, Turin.
          Lukisan :Egypt, Thebes, forking wheat, wall painting in the tomb of Menna, tomb no 69, circa 1422-1411 BC










Jumat, 17 Maret 2017

MYTERNA



MYTERNA
25 Desember 2014 bersama enam orang teman yang sebenarnya sedang terlibat dalam satu project yang dinamakan Aksara Fatukona. Tidak sengaja tercetus untuk membangun sebuah industri kecil yang  memproduksi ide dan karya kami dalam media pakaian. “Mona Noire” adalah nama yang tercetus ketika itu untuk menjadi nama brand yang akan merilis karya dan ide-ide kami. Dengan arti bulan hitam yang diambil dari bahasa latin, kami mencoba untuk dapat menyalurkan ide-ide kami tentang mitos, kegelapan dan hal-hal tabu yang sering diperdebatkan. Kami mencoba untuk dapat menyampaikan kepada kalian tentang apa yang menurut kami relevan terhadap apa yang kami percayai.
Zodiak adalah ramalan menurut rasi bintang yang diambil dari kepercayaan Yunani, dan ini kami anggap paling tepat untuk dijadikan sebagai tema dari rilisan kami yang pertama. Meski bukan berasal dari kebudayaan negara sendiri akan tetapi lingkaran disekitar kami sangat kental mengetahui tentang zodiak mereka masing-masing, akan tetapi tidak semua dari mereka mengetahui cerita-cerita dibalik zodiak tersebut. Kami mencoba menceritakan ulang tentang beberapa tokoh didalam mitologi Yunani dengan mengkaitkan terhadap masing-masing zodiak dengan karya-karya yang digambar dengan tangan oleh Septian Fajrianto. Kami menyampaikan dengan cara kami dan semua series dari zodiak tersebut berasal dari sudut pandang kami dengan bersumber kepada buku-buku lama yang kami koleksi.
Didalam perjalanan kami untuk menyelesaikan kedua belas series zodiak tersebut bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Di awal tahun 2016 beberapa teman memilih tidak menjadikan “Mona Noire” sebagai prioritas. Setelah merampungkan empat series zodiak, kami mencoba melanjutkan apa yang kami mulai dengan menyematkan nama baru untuk memberikan penyegaran. “Myterna” menjadi pilihan kami untuk dijadikan nama brand. Kembali diambil dari bahasa latin (Mythology, Terra, Aeterna) dengan menjadikan pengalaman sebagai pelajaran kami untuk dapat berkembang dan bertahan lebih lama, kali ini kami memfokuskan untuk tidak hanya sekedar menjual merchandise. Kami mencoba untuk bisa mengedukasi beberapa teman disekitar kami tentang mitos-mitos yang bagi sebagian orang tabu untuk dibicarakan.
Dengan dibantu banyak teman dalam sisi konsep dan produksi, juga masukkan dari teman yang membantu memberikan energi lewat membeli produk yang kami jual, kami membenahi beberapa aspek. Pada akhirnya kedua belas series zodiak sudah bisa kalian koleksi. Kami berterima kasih kepada kalian yang sudah memberikan supportnya dengan mengoleksi produk kami. Kami tak akan sampai dititik ini tanpa support dari kalian.
Kami sedang menyiapkan beberapa materi lanjutan, bagi kalian yang ingin mengoleksi produk kami bisa mengunjungi www.myterna.com atau mengikuti kami di social media Instagram kami.

Jumat, 24 Juni 2016

Senandung Syahdu yang Berdengung


Senandung Syahdu yang Berdengung



Entahlah harus dengan usaha seperti apa lagi yang harus kukerahkan untuk menarik perhatianmu.Ditengah riuh kau pun tak sedikit bergeming menoleh kearahku, mungkin duniamu masih terlalu membutuhkanmu hingga kau tak ada waktu untuk beranjak dari altar kebesaranmu. Dunia yang begitu kau agungkan, dunia yang kau sanjung setinggi ego dan ambisimu. Dunia yang telah menjebakmu dan tak sekedar menyita seluruh perhatianmu, bahkan hati dan pikiranmu. Mungkin aku hanyalah sebuah lilin diantara gemerlapnya lampu megapolitan. Atau bahkan aku hanya sekedar dedaunan ditumpukam jerami lusuh.

Sepercik air selalu bisa membangunkanmu dari lelapnya mimpi indah. Seperti petir yang menyambar dalam badai ditengah padang pasir yang selalu menakutkan dan dianggap sebagai pertanda musibah. Ia selalu mencolok ditengah pesta topeng yang membosankan, meski harus dinikmati tapi akan tetap terasa jengah. Mengecewakan bukan jika harus terus berpura-pura? Yang kau nikmati bukannya setetes madu yang akan berikanmu sebuah anugerah. Tapi hanya akan jadi obat penenang yang akan membuatmu terlelap didalam mimpi buruk dan hanya membuatmu gelisah.

Aku bukanlah penggila alkohol dikala putus asa, bukan! Aku hanya pecandu kafein yang tergila-gila akan ketenangan dari bercangkir-cangkir latte dengan perisa hazelnut yang mungkin hanya akan membuatmu muntah. Pencitraan bukanlah cara tepat untuk merepresentasikan identitas, karna kebohongan hanya akan menunda kebenaran terungkap. Biarkan, biarkan airnya mengalir sampai tak adalagi daratan kering. Biar saja ia meresap sampai sanubari yang ringkih. Karna tak ada gunanya bendungan dibuat kalau bendungan tersebut dibangun hanya untuk memperlambat, bendungan tersebut hanya akan jadi serpihan-serpihan kenangan yang akan hilang bersama air yang berbuih.

Aku tak mau lagi bersandar pada ranting pohon yang kuat. Sudah saatnya aku menjadi penopang dari para egaliter yang bertekad. Aku sadar langit yang kita lihat masih sama, tapi jarak kita tak lagi dekat. Aneh bukan? Jarak hanyalah pembatas untuk pemalas yang tak beranjak dari ritme pemikiran singkat. Tapi karna jaraklah akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku mengejarmu hanya bermodalkan semangat. Berlaripun aku tak sanggup, jari-jari kakiku teralu lemah, bahkan kini kepalaku tak sanggup lagi untuk menengadah. Aku tak ingin jadi penyuplai kehidupan yang sewaktu-waktu menjadi penghambat. Aku bukanlah para pengerat yang hanya bisa merambat. Aku bisa saja menjadi pelari yang tercepat. Tapi aku khawatir kau hanya akan tersadar secara singkat dan menoleh selagi sempat.

Sebagai pemula yang bermimpi untuk bisa berada dipuncak, seperti kebanyakan orang yang memulai hal mudah dari bawah. Begitupun aku yang selalu seumbar untuk bertuah. Yang sekedar meramaikan kerumunan dengan banyak berulah. Yang tak lagi militan untuk banyak ucapkan bermacam sumpah serapah. Kini hanya tinggalah secerca kehendak yang menjadi dilema, tak lagi sama, tak lagi senada untuk bersua. Walaupun rasa ini terlalu sulit untuk tersuang karna yang ada hanya resah. Namun satu hal yang harus kau janjikan pada bintangmu, janganlah mudah tergoyah. Karna aku akan selalu mencoba untuk selalu menjadi reksa yang terakhir disaat kau gundah. Tak mengapa kalau harus aku yang meringis,terkikis,bahkan disaat kritis meski itu sangatlah susah.

Aku tak lagi mengerti kenapa aku harus cemburu kepada laut. Padahal laut tak pernah bisa menjadi arah tatapanmu disaat kau cemberut. Apa karena daratan yang sudah terlalu semrawut? Sehingga kau enggan berpaling dan hanya ingin melihat luasnya hamparan biru penuh ketenangan dengan selingan ombak yang saling menyaut. Apa? Kenapa? Siapa?...

Berharaplah, karna hanya dengan itu kita bisa tetap bersama. Meski bukan dalam satu masa, tapi kita bisa saja tetap bersua. Berdua, beriringan menuju singgasana mewah di khayalan para dewa. Berbagi kisah tentang peliknya sisi lain hidup yang begitu tragis tetapi tetap jadi hal teradiktif. Dengan kontradiksi penuh emosi yang menguras militansi untuk bisa tetap berekspresi. Yang tak kenal lelah agar bisa jadi yang paling serasi. Paling tidak kita beranggapan, karna opini bebas dimiliki siapapun yang mau berkreasi. Kamu dan aku, diantara mereka yang risih pada pemberontak tanpa afiliasi. Berpeganganlah yang erat, karna aku tak cukup sekedar berlari dan menghindar. Aku akan membawamu mendobrak kebiasaan para filsuf yang sudah lupa cara membumi. Kita tak akan lagi menyendiri, kita akan berteriak-teriak menyuarakan aspirasi. Walaupun dengan cara mandiri aku berujar akan menjadikanmu seorang puteri. Yang terus akan mengejutkanmu suatu saat nanti. Yang tak lagi kau berikan senyum getir. Yang membuatmu bisa berpaling. Yang tak kuasa lagi kau ragukan untuk jadi pendampingmu suatu saat nanti.



Ditulis dengan waktu sesingkat-singkatnya ditemani alunan lagu romantis  dari album “The Astonishing” milik band Dream Theater.  

Rabu, 22 Juni 2016

Dedikasi atau mati

Dedikasi atau mati
Mungkin terdengar sangat klise jika para senior berujar “Berdedikasilah untuk tiap pekerjaan yang dilakukan.” Siapapun pasti akan menolak mentah-mentah jika menganggap bekerja adalah sebuah bagian dari bersenang-senang. Tekanan dari berbagai arah, tantangan dalam keseriusan, dan gesekkan dalam kerja sama seringkali membuat frustasi. Belum lagi kalau upah yang didapat tidak bisa memenuhi gaya hidup masa kini. Wajar saja jika “TGIF” dan “I Hate Monday” selalu bergema di awal dan akhir minggu. Setiap pekan yang ditunggu hanyalah hari libur, makin banyak tanggal merah adalah anugerah tersendiri.
Indonesia mempunyai sistem pendidikan yang unik, kita para pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi dibiasakan dengan dijejali teori-teori. Menyeragamkan berbagai hal dengan maksud para pelajar menjadi teratur guna mempermudah proses kegiatan belajar-mengajar. Mulai dari pakaian, grooming, etika, hingga pola pikir diseragamkan menganut kepada kurikulum yang berlaku. Mungkin keteraturan bisa mempermudah banyak hal, tapi jika keteraturan terebut dipaksakan Cuma hanya membatasi potensi bukan? Karna kenyataannya manusia diciptakan berbeda-beda, karena untuk menyusun puzzle diperlukan semua bentuk untuk bisa menyusunnya. Satu bentuk saja tapi banyak hanya akan membuat seleksi makin ketat dan banyaknya bagian puzzle yang terbuang. Dan itulah yang seringkali terjadi di kehidupan nyata.
Potensi-potensi dini yang dimiliki individu manusia bisa saja mati jika tidak dikembangkan, alih-alih mengembangkan sesuai porsinya pendidikan di Indonesia menurut saya malah mengarahkan ke arah yang disukai oleh sistem. Sehingga potensi tersebut tenggelam karna otak kita sibuk untuk beradaptasi pada hal-hal baru yang belum tentu sesuai dengan potensi yang kita miliki. Adaptif adalah sifat mahluk hidup manapun didunia ini, namun adaptasi memerlukan waktu dan usaha untuk bisa benar-benar nyaman. Ketimbang sibuk beradaptasi bukankah lebih baik mengasah potensi?
Bisa melakukan hal-hal menyenangkan adalah tujuan hidup semua manusia, namun hal yang menyenangkan pasti berdampingan dengan kesulitan. Seperti hiudp dan mati, yang tak pernah bisa terpisahkan. Banyak hal yang menyenangkan tapi tak semua bisa menemukan letak kesenangannya, kenapa? Apakah karna kesenangan hanya untuk orang beriman dengan dahi berwarna hitam? Atau hanya untuk mereka yang berkacamata tebal? Sungguh tak adil bukan jika kesenangan hanya dibagi untuk orang -orang tertentu? Semua pasti ingin bisa menikmatinya, dan rintangan seberat apapun pasti akan dihadpinya. Bisa senang sekaligus  menguntungkan adalah dambaan, apalgi bisa dengan sedikit perngorbanan saja banyak hal yang kita dapatkan. Contohnya dalam pekerjaan, seberapa besar kalian menyenangi apa yang kalian lakukan? Seberapa banyak kesenangannya ? Sudahkah kalian mulai ketagihan atas rutinitas kalian? Ataukah kalian menganggap hidup yang kalian jalani, rutinitas kehidupan kalian adalah hal membosankan?
 Saat ini entah kenapa saya selalu ketagihan untuk terus (memasak), padahal bidang ini bukanlah hal yang saya sukai pada awalnya. Sama sekali bukan, lambat-laun dengan banyaknya orang yang saya temui di bidang kuliner dan pariwisata dengan profesionalisme yang mereka tunjukkan, saya bisa mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, yaitu kecintaan terhadap kewajiban. Bukannya menjalani kewajiban dengan terpaksa, tapi malah mencintai kesukaran dan tantangan didalamnya. Mendedikasikan diri atas setiap pekerjaan yang dijalani, dengan profesional dan integritas yang tulus. Meyakini  hal yang kita lakukan bisa menghadirkan keceriaan, membuat kesulitan yang kita hadapi menjadi sebuah senyuman kepuasan. Adalah suatu kebanggan bisa berbuat baik tanpa merasa dirugikan, menghadapi tiap tantangan untuk hadirkan kepuasan.
 Tulisan ini merupakan bentuk rasa syukur atas pelajaran hidup yang saya dapatkan, bukan bermaksud untuk menggurui, hanya ingin sekedar berbagi. Dalam kurun waktu 90 menit sembari menyaksikan Jerman melawan Irlandia Utara di Piala Eropa 2016, dalam kantuk dan suntuk isi kepala saya dituangkan dalam suatu bentuk rasa syukur. Semoga kita tak sependapat, semoga berdebat bisa menjadikan kita kerabat. J

Jumat, 12 Februari 2016

Yang Membuat Permasalahan Ada Ternyata Kita Sendiri

       Pernahkah kalian mengalami stuck dalam menghadapi masalah kalian? Berbagai tipe manusia ternyata bisa diidentifikasi dari caranya menyelesaikan masalahnya. Tapi kali ini gue bukan mengulas hal seperti itu. Tulisan kali ini merupakan keluh-kesah yang gue alami dalam beberapa waktu ini.
      Semua orang pasti punya masalah. Dan menurut Wikipedia : Masalah (bahasa Inggris: problem) kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.[1] Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.[2] Umumnya masalah disadari "ada" saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Dalam beberapa literatur riset, masalah seringkali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.
       Dan menurut gue, masalah itu adalah momen dimana yang kalian kehendaki tidak terjadi. Dan untuk mewujudkan hal yang kita kehendaki dibutuhkan penyelesaian dengan mengambil tindakan denga resiko terkecil. Mungkin lebih dikenal dengan "win-win solution". Meski nyatanya harus ada yang dikorbankan. Siapapun pasti menginginkan permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan waktu yang singkat dan dengan resiko terkecil, akan tetapi kesiapan akan jadi kunci penyelesaiannya. Disinilah saatnya kita menjadi teoritis, berdasarkan banyaknya ilmu yang kita pelajari akan menjadikannya pengalaman yang menyenangkan bukan?
       Dalam beberapa hal masalah bisa saja dihindari, dengan kesiapan dan kecermatan yang maksimal seharusnya hasilnya akan sesuai perencanaan. Tapi dalam beberapa kejadian persiapan yang matang bisa saja menemui kendala dalam prosesnya. Inilah momen dimana apa yang kita pelajari akan diuji, dan ini adalah waktu yang tepat untuk kita mengetahui kemampuan diri. Sejauh mana hal-hal yang kita pelajari dapat berguna bagi kehidupan kita sendiri, dan bisa membuat diri kita memfillter hal-hal apa saja yang butuh kita pelajari lebih intens. Karena kesempatan tanpa kesiapan tidak akan jadi keberuntungan bukan?
      Dan satu hal yang menurut gue bisa membuat masalah bertambah rumit adalah sifat kita yang menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya, yaitu egoisme. Inilah yang menurut gue bisa memunculkan bahkan merumitkan masalah itu sendiri. Pernahkah kalian berada di kemacetan yang parah? Pasti semua yang tinggal di Jakarta sudah menjadikan ini sebagai rutinitas dalam hidupnya. Kecuali kalian adalah pengguna setia kendaraan yang  biasa parkir di Helipad. Menurut pengamatan sok tau yang gue lakukan, kemacetan di Jakarta bisa saja mudah terurai asalkan semua patuh dan taat pada peraturan. Namun, yang taat dan patuh pada peraturan hanyalah robot, sedangkan kita (manusia) dengan sifat toleransi yang tinggi akan membiarkan pelanggaran kecil dikehidupan  kita menjadi bukan pelanggaran. Dan nampaknya semua berpikiran sama dan jadilah pelanggaran kecil ini dilakukan banyak orang dan jadilah kemacetan.
      Pernah terfikir mengapa sampai saat ini masalah kemacetan belum teratasi meski sudah banyak solusi yang dilakukan oleh pihak terkait? Mari tanyakan pada diri sendiri apakah kalian tidak berminat untuk menambah jumlah kendaraan dijalanan Jakarta dengan salah satu kendaraan milik kalian? Atau kalian bisa tanyakan pada diri kalian seberapa betahkah kalian berkendara di jalanan Jakarta? Apakah kalian tidak tergoda sedikit melanggar tata cara dan peraturan berlalu-lintas demi cepat-cepat sampai ditempat tujuan kalian?
       Tulisan ini merupakan keluh-kesah yang gue alami, tanpa ada maksud menyinggung orang lain atau pihak tertentu.
      

Jumat, 05 Februari 2016

Kembali Untuk Mencari

         Setiap orang biasanya ingin mencari sesuatu yang baru. Terus begitu hingga kesempatan yang ia miliki habis. Tantangan adalah hasrat setiap pria untuk menaklukannya, entah untuk pamer ataupun hanya untuk memenuhi nafsunya. Menyenangkan memang bisa selalu menaklukan tantangan-tantangan baru yang dihadapi. Itu membuat kita bisa mengaplikasikan apa yang kita pelajari dan bisa mempelajari hal-hal baru untuk diaplikasikan ditantangan berikutnya. Tapi, kenyatannya hdiup tak selalu memihak kepadamu saja. Tuhan pun harus adil kepada setiap ciptaan-Nya.
       Jatuh membuatmu sakit, dan yang diharusnya dilakukan adalah sesegera mungkin bangkit. Bangkit bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Walaupun mengatakannya sangat mudah. Kekuatan untuk bangkit biasanya diperoleh dari dukungan keluarga, teman-teman dan keagamaan. Sangat tidak mudah melalui fase tersebut. Butuh lebih dari keberuntungan dan kerja keras untuk bisa tersenyum ketika bisa melaluinya.
       Ada kalanya kita jenuh dalam rutinitas profesi, mendedikasikan segala yang kita punya untuk menyenangkan orang lain lewat sebuah karya diatas piring. Rutinitas tanpa gairah, hal yang sangat membosankan bukan? Dan ketika akan sampai di keputusasaan biasanya ada pilihan sulit yang datang. Dan panggilan untuk kembali ketempat pertama gue belajar memasak di dapur industri itupun datang. Banyak hal baru ditempat yang baru, tapi keinginan untuk menemukan gairah untuk memasak lagi dengan banyak orang yang jauh lebih baik di bidang ini memutuskan gue untuk kembali ambil bagian didalam tim. Untuk menemukan semangat yang sudah lama redup, untuk menemukan kecintaan dlam memasak, untuk bisa menghabiskan waktu belasan jam di dapur sambil berbahagia ketika menyeka peluh keringat.
     Mempelajari hal baru dengan orang-orang yang sudah gue kenal. Sebuah keuntungan untuk beradaptasi lebih cepat. Memahami karakter setiap individu, memahami dan mencoba menaklukan tantangan-tantangan yang dihadapi adalah langkah awal untuk bisa berkembang. Sangat menyenangkan ketika hal yang kita pelajari bisa berguna, tapi mempelajari hal baru adalah kesenangan lain yang didapatkan. Kalian tidak akan jadi hebat jika kalian egois, sidat angkuh dan arogan adalah hal bodoh yang harus kalian buang ketika kalian memulai untuk meniti karir di profesi ini. Gue menikmati punya banyak kesempatan baik di usia belia, dibeberapa kesempatan menjadi sebuah keuntungan. Tapi disituasi yang lain itu dalah sebuah tantangan,karena kemampuan psikis dan mental yang biasanya belum siap untuk melakukannya harus dipaksa untuk bisa melakukannya dengan baik.
       Tapi beruntungnya ada banyak orang baik yang mengajarkan hal-hal baik. Beruntungnya gue bisa berada di tempat yang tempat untuk menemukan kembali gairah untuk memasak. Tim yang hebat, atmosfir yang menyenangkan dan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Terimakasih, kalian memberikan contoh yang sangat baik dalam hal mendedikasikan diri untuk menyenangkan orang lain lewat masakkan.