Sabtu, 27 Juni 2015

Pencitraan Bukan Hanya Milik Politisi

    Cuma sedikit manusia yang rendah hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Tapi terlalu banyak orang yang menyebut dirinya demikian. Miris memang, kita suka mengemas diri kita dengan ekspetasi, bukan realita yang memang jadi identitas diri. Walaupun banyak motivator terlalu sering mengatakan "Jangan menilai dari covernya" tapi kenyataannya sebagian manusia tidak setuju dalam argumen tersebut, toh beberapa orang sibuk mengemas dirinya sebaik mungkin. Alasan yang menurut saya logis adalah karna sebagian manusia lainnya yang masih beranggapan bahwa kalau kemasannya menarik pasti isinya juga bakal asyik. Apalagi ketatnya persaingan ekonomi menyebabkan semua harus berlomba, menganggap yang lain adalah kompetitor. Merasa tanpa partner dan akhirnya cuma bisa bersaing.  
      Manusia harus produktif, inovatif dan kreatif. Ada yang memilih memproduksi kreativitasnya sendiri ada pula yang mau membantu orang lain memproduksi inovasinya. Namun, tak semudah ekspetasi yang diproyeksikan para pakar terdahulu. Pertumbuhan populasi manusia yang pesat membuat persaingan untuk bisa memperoleh kebutuhan tersier menjadi semakin kompetitif. Tentu sifat dasar manusia sebagai makhluk yang tidak pernah puas punya peran penting dalam mengemas dirinya agar bisa menjadi kompetitor unggulan. 
      Dalam era moderen seperti sekarang ini manusia tidak hanya saling menjual sekantung gabahnya kepada tetangga sebelah rumah saja. Saat ini kita bisa menikmati kelezatan ikan Salmon yang hanya hidup diperairan dingin. Padahal kita tinggal didataran tropis. Lantas kenapa harus repot-repot menjajakan hasil bumi ke dataran yang jauh dari pandangan, dibatasi perairan nan jauh disana? Bisa saja karna terlalu banyak yang menjajakan barang yang sama, mungkin kalian bisa sambil mengingat pelajaran di waktu sekolah dulu tentang tingginya permintaan akan berbanding lurus dengan harga jualnya. 
    Nah siapa yang berminat membeli barang rusak dengan harga yang tinggi, padahal ada banyak penjual yang menjajakan barang tersebut dengan kualitas barang yang lebih bagus? Kalau ada yang mau bisa jadi cuma karna kasihan, kasihan dengan kondisi penjualnya dan berharap setelah membeli akan ada segerombolan orang membawa kamera dan mikrofon datang untung sekedar bertanya-tanya. MUNGKIN! Hanya kemungkinan, hidup ini penuh dengan ketidak pastikan bukan? ;) Lumrahnya kita menyukai barang bagus, pemandangan indah, dan penampilan menarik. Kalau kalian tidak menyukai salah satu dari ketiganya saya sarankan kalian berdo'a agar bisa reinkarnasi ke zaman prasejarah. Karna sifat dasar manusia yang seperti itu sepertinya bakal terasa naif jika kita bersua "Jangan lihat hanya dari covernya". Karna manusia penyuka keindahan akan sangat menyenangkan jika banyak keindahan yang memanjakan mata.
        Yang terlihat tidak selalu jadi kebenaran. Saya memulai mengemas diri saya menjadi lebih bernilai jual kepada setiap HRD yang saya temui. Karna saya tau, dia juga manusia seperti miliaran lainnya yang menyukai keindahan. Tapi, saya selalu mencoba mengemas diri saya agar sesuai dengan isinya. Agar tidak ada ekspetasi yang terlalu tinggi. Kemasan yang berlebihan akan menjadi pisau bermata dua yang mata pisaunya lebih tajam dibagikan dalam. Walaupun saya tidak yakin semua orang punya prinsip yang sama seperti saya, dan sepengetahuan saya hanya sedikit yang punya kesamaan pemahaman soal bagaimana kemasan itu menentukkan kepuasan. 
       Begitu banyak orang yang lebih menyukai mencitrakan dirinya ketimbang meningkatkan kualitas kapasitasnya. Dan yang membuat saya miris adalah orang-orang seperti ini berasal dari mereka yang punya kesempatan mengenyam pendidikan tingkat lanjut. Apa hal seperti ini termasuk berbohong? Mmm, biar Tuhan saja yang menentukkan. Bukankah manusia belum berhak menghakimi manusia lainnya ;) 
      Kebenaran akan selalu terungkap, tanpa harus dipaksakan menictrakannya. Akan jauh lebih mengasyikkan jika isinya lebih menarik dari kemasannya, karna kemasan mungkin hanya jadi pajangan atau malah terbuang. Ekspetasi tinggi membuat prestasi jadi hal biasa yang cuma dianggap tradisi.

Senin, 22 Juni 2015

Kemenangan Tanpa Perjuangan



Kemenangan Tanpa Perjuangan
Ramadhan, bulan penuh rahmat dan berkah. Setidaknya begitulah yang dikatakan guru ngaji gue sewaku gue TPA(Taman Pendidikan Qur’an). Well, gue ga akan mencoba menjadi ustadz dadakan dibulan Ramadhan ini. Cuma semakin sering gue menjalani ibadah puasa ini semakin gue geram dengan banyak tindakan aneh yang dilakukan oleh sekelompok oknum yang melabeli diri mereka dengan organisasi masyarakat keagamaan. Mungkin Cuma gue yang berpikiran seperti ini, Kenapa warung makan/restoran/usaha kuliner harus tutup ketika siang hari dibulan Ramadhan? Kenapa tempat hiburan malam/club/pub/lokalisasi prostitusi harus tutup sementara dibulan Ramadhan?
Beberapa orang yang terlibat dalam usaha kuliner mungkin pernah merasa khawatir kalau mereka harus tetap beroperasi disiang hari pada bulan Ramadhan. Bukan karna itu larangan pemerintah, tapi karna ada sekelompok oknum organisasi keagamaan yang bakal berbuat onar di tempat usaha kuliner tersebut. Setau gue mereka (yang suka buat onar) gak akan ganti rugi atas kelakuan mereka yang merugikan itu. Pemerintah juga gak akan membayar uang kompensasi kesemua pemilik usaha kuliner buat nyuruh mereka mengubah jam operasional mereka. Gak semua penduduk di Indonesia itu muslim, dan ga semua muslim itu berpuasa kok. Kalo semua penjual makanan/minuman dibulan Ramadhan harus tutup disiang hari, terus yang sedang tidak berpuasa dan mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa harus pura-pura puasa seperti kalian? Ya kalian yang suka berbuat onar ;)
Kalian berusaha menggapai kemenangan, tapi kok gamau berusaha buat mengalahkan dan melewati rintangannya. Memangnya menang WO itu enak? Walaupun tetep menang tapi bakal hambar, kalo cuma menang wo di pertandingan level 1, terus bakalan yakin bisa menang di pertandingan level 2? Ayolah, kalian mau kenyang tapi gamau makan!  Kalau kalian anggap bulan Ramadhan itu bulan kemenangan, bulan yang penuh rahmat karna akan banyak pahala atas setiap kebaikan yang dilakukan maka caranya adalah berusaha untuk menyempurnakan ibadahnya. Bukan malah memudahkan ibadahnya.
Ya itu tadi menurut gue, gue terlalu kesal sama orang-orang yang mau sampe tempat tujuan tepat waktu tapi gamau berusaha berangkat lebih awal. Kalau kalian mau fokus beribadah usahakan kalian mau benar-benar memfokuskan diri kalian untuk beribadah, bukannya malah mengganggu kepentingan orang lain yang puny acara beribadah yang lain. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, semua agama didunia ini pasti mengajarkan tentang kebaikan.
Selamat menunaikan ibadah dibulan Ramadhan, semoga kita makin merasa dekat dengan pencipta kita ;)

Jumat, 20 Februari 2015

MENGHARAPKAN PERHATIAN

MENGHARAPKAN PERHATIAN
Kebisingan suara di jalan-jalan Jakarta bagaikan suara penonton konser yang meminta penampilnya membawakan bonus performance. Tak ayal budaya timur yang melekat kental kepada masyarakat seakan luluh-lantah, pergi menghilang tanpa kabar. Semua punya kesibukkan masing-masing dan memprioritaskan diri sendiri tanpa toleransi. Seorang wanita tua duduk ditepi trotoar sambil menadahkan sebuah mangkuk kecil dan menatap setiap orang yang lalu-lalang dijalan. Adakah yang peduli? Beruntung selalu ada orang-orang yang iba melihat ketidak beruntungan seseorang dan menyisihkan uang mereka untuk wanita tua tesebut. Tapi orang seperti itu tidaklah banyak, karena kebanyakan orang mengannggap dirinya selalu kekurangan untuk berbagi tapi selalu merasa cukup untuk membeli barang-barang mewah.



Image by : Google

Indonesia saat ini sedang rajin diguyur hujan, terutama Jakarta. Sebenarnya hujan bukanlah musibah, tapi karena ulah manusia yang mementingkan kehidupan mereka sendiri jadilah hujan lebat sebagai masalah tersendiri yang selalu diagendakan tiap tahun oleh masyarakat dan pemerintah. Sebuah siklus tahunan yang terencana, tapi masih belum terselesaikan. Hal yang agak aneh karena kita sebagai manusia bisa merencanakan musibah. Tentu saja musibah yang kita buat sendiri, dan ditanggung juga oleh orang lain. Selama bertahun-tahun tinggal diJakarta masyarakatnya masih saja ada yang mengeluh soal keadaan Jakarta. Terutama masalah banjir, mereka menghambur-hamburkan air tanah dimusim kemarau. Membuang sampah di saluran air didekat rumah, sengaja pergi keMall di hari Kerja bakti lingkungan dan masih mau menetap didaerah yang menjadi langganan banjir. Tapi mereka selalu mengeluh kepada pemerintah terkait atas banjir yang menggenagi area lingkungan tempat tinggal mereka. Logikanya kalau kita menanam pohon tanpa dirawat apakah pohon tesebut akan jadi besar dan bermanfaat? Lalu ketika pohon tersebut mati dan kita protes terhadap Tuhan, apakah Tuhan akan menjadikan pohon tersebut menjadi yang kita inginkan?
Image by Google
Terkadang kita terlalu angkuh sebagai manusia, menjadikan kita lalai akan masa depan. Berfikir singkat dan berusaha secara instant. Memperingkas tak selalu efektif untuk semua hal, dan biasanya yang dihilangkan dalam proses peringkasan tersebut adalah bagian-bagian sulit yang butuh waktu panjang. Mengakibatkan lupa kalau manusia itu berkembang biak dan bumi itu tidak. Ya banyak yang lupa kalau Albert Einstein dan Sir Isaac Newton sudah wafat sangat lama. Kita lupa atau mungkin belum sadar kalau aka nada terus bayi mungil yang lahir didunia ini dan butuh tempat tinggal. Kalau yang kita lakukan saat ini untuk membuat nyaman hidup kita saja maka kembalilah berfikir apakah kita sudah siap untuk jadi generasi terakhir dari garis keturunan umat manusia?
Image by: Google

Mengeluh adalah hal termudah yang bisa semua orang lakukan, mungkin sudah menjadi hobi bagi beberapa orang. Tapi apakah yang didapat setelah kita mengeluh? Bagaimanapun cara anda mengeluh hanya akan membuat anda dikasihani orang lain, dan takkan pernah berlangsung secara kontinu karna selalu ada titik jenuh. Sama halnya seperti kemacetan yang bukannya teselesaikan malah selalu ada masalah baru. Jenuh dengan kemacetan? Lalu apa yang kita lakukan? Berfoto ria dan mempublikasikannya kepada pihak terkait? Atau marah-marah terhadap petugas yang mencoba mengurai kemacetan? Apakah dengan semua tindakan tersebut  macet akan terurai? Apakah seketika semua kendaraan menghilang dan anda bisa melenggang santai sampai ketempat tujuan?

Image by Google
Kalau anda mengeluhkan kemacetan tapi tidak mau mengubah kebiasaan anda dalam berpergian maka jalanan yang lancar dan teratur seperti yang anda harapkan tidak akan terwujud. Anda berfikir biarlah orang lain yang mengubah kebiasaannya dulu, menunggu orang lain bertindak sesuatu terlebih dahulu. Maka sampai kapanpun Indonesia akan terus mengimpor minyak yang harganya terus melonjak, sampai entah kapan selalu ada yang berdemo menolak kenaikkan BBM bersubsidi.
 Manfaatkan fasilitas yang disediakan, patuhilah peraturan yang sudah dengan susah payah dibuat demi kenyamanan masyarakat. Memqng hal tersebut tidak menjamin apa yang anda harapkan terwujud, tapi bukankah adil jika kita sering menuntut kepada pemerintah yang kita anggap sebagai pelayan masyarakat kemudian kita membalasnya lebih dari sekedar membayar pajak. Membantu setiap program-program pemerintah, yang tentunya kita seleksi dahulu sesuai dengan pola pikir dan hidup kita masing-masing. Bukankah nyaman jika rakyat dan pemerintahnya saling berkontribusi untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang dahulu diperjuangak mati-matian oleh para pahlawan.
Tak ada lagi yang harus diminta jika semua sudah tercukupi, tak perlulah menuntut sesuatu yang diluar kemampuan dan akal sehat. Balaslah sesuai dengan kemampuan atas tiap tindakan yang orang lain lakukan, berbuat baik memang sulit tapi itu amat menyenangkan. Dan bukankah kesenangan yang kita cari selama hidup didunia? Jadilah pembeda disetiap kehadiranmu.


Selasa, 17 Februari 2015

Jangan Kacaukan Negeriku

Jangan Kacaukan Negeriku
Yang muda yang berbahaya. Bahkan Proklamator Republik Indonesia Bapak Insinyur Soekarno berujar “Berikan aku sepuluh pemuda,maka akan kugoncang duinia”. Jelas pemuda begitu amat berbahaya karena dalam usia produktif itu ada gejolak nafsu, semangat dan keinginan kuat dalam setiap diri manusia yang membuat akal sehat kaum tua seperti punting rokok diasbak. Usia muda adalah titik awal pembentukkan identitas manusia untuk menuju titik puncak atau jadi penghuni jurang keputus asaan. Begitu banyak prestasi yang bisa ditorehkan manusia ketika usianya muda, begitu menyenangkan ketika keberhasilan itu datang. Dan begitu hancur ketika kegagalan itu harus memilihnya sebagai alur cerita hidup manusia.

Mengapa ketika masih kecil kita sangat senang ketika berhasil memenangkan sebuah permainan “Galasin/gobak sodor” dilapangan dekat rumah bersama teman sebaya?

Image : www.triptrus.com
 Mengapa yang kalah tidak sesedih Lionel Messi ketika Argentina kalah di final Piala dunia 2014 di Brazil?
Image :  Bao Tailiang
 Saya merasa ketika kecil proses itu lebih penting ketimbang hasilnya.Ya walaupun institusi pendidikan di Negara ini tidak berfikir sama seperti saya. Ketika usia anak-anak kita tidak terlalu memikirkan nilai raport, tapi apakah orang tua kita berfikiran sama seperti anaknya? Hanya sebagian orang tua yang berfikir sepert itu. Sisanya menekankan HASIL raport yang terbaik, untuk apa? Kemungkinan besar untuk dipamerkan kepada orang tua lainnya. Membuat anak menjadi tertekan karena tak bisa menikmati prosesnya dan memaksakan hasil akhirnya saja, padahal dibalik itu ada proses panjang yang perlu diapresiasi. Tapi apakah hasilnya selalu bisa mengapresiasi prsesnya? Tentu tidak, sudah ada nepotisme didalmnya. Nepotisme yang menjadikan proses hanya sebagai penghias hasil. Sejak saat itulah kita mungkin terbiasa mengindahkan proses dan menekankan hasilnya. Turun-temurun dan membudaya dan akhirnya menjadi kebiasaan yang lumrah. Dan akhirnya kita akan menyalahkan orang yang mempunyai idealis tinggi terhadap proses.
Kenakalan adalah kesalahan yang didasari keingin tahuan, sebuah proses yang diberi toleransi tinggi dikehidupan bersosial. Lain hal kalau labelnya sudah menjadi kejahatan, toleransi yang tadinya selalu menemani seakan bersikap acuh. Sebuah proses yang mirip antara kenakalan dan kejahatan, hanya hasilnya saja yang membedakan. Mengapa kita selalu berpatokan dengan hasil? Mengapa harus menunggu hasilnya kalau kita tahu prosesnya sudah tidak baik? Jawabannya sama seperti orang tua yang ingin membanggakan nilai raport anakanya didepan orang tua murid lainnya. Kalau saja “Mencegah lebih baik daripada mengobati” tak hanya kita terapkan untuk kesehatan, maka penghakiman didunia oleh manusia tidak perlu serepot preman yang  melaporkan kejahatan kekantor kepolisian. Nampaknya menghakimi adalah kepuasaan bagi mereka yang haus akan kekuasaan, mereka bagai Tuhan yang bisa menghakimi ciptaan-NYA.
Image : wiji-thukul.blogspot.com

Kita hidup terdidik oleh kebiasaan bodoh yang diturunkan oleh penjahat berdasi yang menghakimi sesamanya. Mereka ingin pemuda tak bisa goyahkan kekuasaan miliknya, mereka acuhkan pembenaran atas kesalahannya. Agar mereka bisa berlama-lama berkuasa, menikmati setiap kemenangan semu atas lawan yang ingin jatuhkan. Membuat paham baru agar mereka bisa dikenang, bisa menjadi pahlawan dikemudian hari nanti. Membuat yang baik Cuma jadi penjahat dimata rakyat, dan membuat dirinya dielu-elukan bak pahlawan perang yang mengusir penjajah. Membunuh impian para pemimpi yang inginkan kesejahteraan.
Image : salt.btloc.com

Manusia memang tak seharusnya menghakimi sesama manusia, tapi orang yang merugikan orang banyak harus menyisihkan diri agar tak mewarisi  kebiasaan yang mengganggu akal sehat. Penguasa bukan berarti pemilik segalanya, mandat rakyat adalah alasan mereka bisa tertawa melihat kekisruhan yang terjadi. Semoga tak ada lagi suara yang terbungkam, semoga keinginan melawan tak hanya dimilikki mereka yang dirugikan.



Sabtu, 10 Januari 2015

Mereka Menyebut Dirinya Pahlawan Part 1


Mereka Menyebut Dirinya Pahlawan



2014

Rama ketika itu berumur 19 tahun, ia mengenakkan celana jeans, kaus berwarna cokelat dan membawa ransel besar yang telah kusam. Ia berjalan melewati sebuah gang disalah satu daerah kumuh di Jakarta. Mengamati para orang tua itu menenggak minuman dari botol berwarna hitam sambil bermain kartu. Ia terus berjalan,tapi pandangannya terhenti ketika ia bertatapan dengan salah satu pemain kartu berambut panjang yang dikuncir seperti buntut kuda. Ia segera mengalihkan pandangannya dan terus berjalan,mempercepat langkah kakinya agar tidak menjadi pusat perhatian.
Jakarta merupakan tempat mewujudkan impian bagi beberapa orang. Begitu banyak kesempatan berada dikota ini, pemusatan ekonomi yang dilakukan pemerintah menjadikan banyak orang berbondong-bondong mencoba peruntungannya dikota ini, akibatnya mereka yang kalah dalam persaingan memperebutkan kesempatan itu harus memutar otak untuk membuat kesempatan mereka sendiri.  Kesempatan itu ada yang dibuat dengan tujuan bermanfaat bagi orang lain, atau bahkan dengan cara memanfaatkan orang lain. Terkadang,kebutuhan mendesak kita berperilaku tak masuk akal, tak lagi memikirkan penilaian orang lain, dan cuma berusaha memenuhi ego masing-masing.

2012

Doni, Eko dan Pras ketika itu masih mengenyam pendidikan berlabelkan seragam abu-abu. Sama seperti kepribadian anak seumurannya yang memang masih abu-abu, mereka dihadapkan kepada pilihan untuk menjadi putih atau hitam. Mereka berkumpul disalah satu warung modern yang menjadi tempat nongkrong populer saat itu. Sambil menenggak minuman beralkohol import dan menghisap sebatang rokok putih mereka bercakap-cakap seperti halnya seorang pejabat bersih yang menginginkan negaranya bebas dari korupsi, menekan laju pertumbuhan ekonomi dan memiliki sumber daya manusia yang baik. Ya, mereka baru berusia 17 tahun dan bahkan belum menghadapi Ujian Nasional. Suguhan berita ditelevisi, surat kabar dan portal berita elektronik menjadikan masalah pemerintah jadi konsumsi rutin mereka. Media membuat permasalahan yang dihadapi pemerintah seakan menjadi permasalahan rakyatnya juga. Tak heran jadi banyak orang yang sok mencampuri berbagai permasalahan tersebut tanpa mau membantu menyelesaikannya.
“Eh banyak banget koruptor yang tertangkap ya?” Doni membuka obrolan.
“Ahh yang ketangkep kan cuma bawahannya aja, kan kita gak tahu kalo ternyata dia Cuma disuruh” Cela Pras.
Eko yang ketika itu sedang sibuk dengan ponsel importnya tidak mau menanggapi obrolan kedua temannya, ia lebih sibuk berdiskusi dengan teman-teman di jejaring sosialnya yang belum lama ia kenal. Beberapa orang memang lebih memilih menjaga silaturahminya dengan orang yang jauh ketimbang yang ada didepan matanya, mendekatkan yang dekat katanya.
Beberapa makhluk anti sosial bisa berubah 180 derajat karna teknologi, bisa mengubah apapun kecuali latar belakang. Mereka bisa saja berfikiran seperti halnya pejabat partai politik di gedung hijau, tapi mereka tetaplah pelajar yang punya kewajiban datang setiap pagi dan memakai seragam sesuai aturan. Sibuk berbincang mulai dari pejabat korup sampai supir angkutan umum yang memperkosa penumpangnya tiba-tiba saja Eko menggebrak meja.
“Kayanya bakalan asyik kalo kita bikin sesuatu supaya kita kelihatan keren nih” Kata Eko.
“Halah mau bikin apa sih lu? Emang kita punya bakat apaansih? Hah!!!” Cela Pras.
“Kita bikin organisasi semacam mafia, tapi mafia kan biasanya mengambil keuntungan dari orang lain, nah kita kebalikannya” Tambah Eko.
“Untungnya buat kita apaan? Jangan kebanyakan menghayal, gausah sok mau ngebantu orang deh” Doni dengan nada rendah menimpali omongan Eko.
“Yah jangan pikir untungnya dulu, tapi kebanggaannya. Masa elo gamau sih dihormatin sama adek kelas? Supaya kita kelihatan keren aja dimata orang lain” Dengan semangat seperti Wikana(Tokoh pejuang golongan muda dalam usaha memproklamirkan Kemerdekaan RI) Eko meyakinkan teman-temannya.
Akhirnya mereka sepakat membentuk organisasi mafia mereka, berbekal tontonan film luar negeri, mereka akhirnya melabeli organisasi mafia tersebut dengan nama  sekawan pahlawan. Mereka mendisukusikan hal-hal yang akan mereka lakukan esok hari disekolah. Mereka berangan-angan selayaknya mereka akan menghentikan dominasi Negara paman sam atas PT.Free Port di tanah Papua. Hal yang amat tak mudah dilakukan oleh pemerintah beberapa generasi sebelumnya sekalipun. Tapi mereka meyakini jika memulai melakukan kebaikan untuk orang lain adalah bentuk awal mendapatkan rasa hormat orang lain, karna bagaimanapun kebaikan didunia hanya akan dibalas dengan dua hal: Imbalan berupa harta atau penghormatan dari orang lain. Banyak orang melabeli dirinya dengan orang baik, tapi sebenarnya mereka lebih mudah berperilaku yang menyulitkan orang lain.





Kompetisi Mengasah Potensi


Kompetisi Mengasah Potensi


sumber : suzannita.wordpress.com



Kita adalah juara, tak ada yang dilahirkan untuk gagal. Hanya saja banyak yang berhenti mencoba dan akhirnya menyerah pada tantangan. Menyerah adalah bunuh diri bagi tentara didalam perang, tertangkap bagi para penjahat, kalah bagi mereka yang bertanding. Hal itulah yang membuat hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Berusaha bukanlah hal mudah, semua orang tahu banyak pengorbanan didalamnya. Pengorbanan tanpa totalitas malah bisa membuat hasil akhirnya lebih buruk.Tapi siapa yang peduli dengan prosesnya kalau hasil akhirnya diTuhankan? Cuma segelintir dari mereka yang punya cukup kompetensi untuk bisa tetap berusaha mengubah hasil akhir.
Makin banyaknya sumber daya dan sedikitnya peluang mengakibatkan kompetisi dari berbagai lini. Semua makhluk hidup saya pikir melakukannya, untuk apa? Agar mereka tetap bisa berada didalam siklus kehidupan. Tumbuhan berkompetisi untuk bisa bermanfaat, agar mereka tidak ditinggalkan dan akhirnya punah. Hewan saling berkompetisi untuk tetap hidup, memangsa dan melindungi dirinya dari pemangsa lain agar mereka tetap bisa menjaga eksistensinya. Semua makhluk hidup juga melakukan evolusi agar bisa beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Lantas kenapa kita enggan untuk melakukan percobaan baru agar bisa menjadi yang terdepan dalam kompetisi kehidupan ini?

sumber : wikipedia

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna ditata surya ini adalah penopang dan penentu siklus kehidupan lanjutan. Mungkin banyak yang beranggapan takdir adalah ancaman, tapi bukankah takdir bisa diubah dengan sebuah usaha? Bukankah kita diberi kesempatan untuk menentukkan takdir yang kita inginkan? Bahkan Tuhan saja memberi kesempatan bagi manusia untuk mengubah takdirnya, mengapa masih saja merelakan kesempatan yang diberikan?
Kita sudah memulai kompetisi dari dalam rahim, dan akan mengakhirinya sampai kesempatan itu kita serahkan kepada pemiliknya. Begitu banyak kompetisi yang kita hadapi, sadar atau tidak hal itu yang membentuk pola pikir dan perilaku kita untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Terus begitu sampai kita dihadapkan kepada kematian. Kompetisi mengajarkan kita untuk belajar cara untuk memenagkannya. Tentu semua mau jadi pemenang, tapi pemenang adalah dia yang punya kemampuan mengatasi dirinya dan apa yang dilawannya. Mereka yang menang adalah mereka yang belajar, mereka telah belajar memperbaiaki kelemahan dari kompetisi sebelumnya hingga akhirnya mereka bisa menutup celah kelemahan yang mereka miiki dan akhirnya mereka tak terkalahkan.
Kelemahan kita ada dari dalam diri kita. Iri, dendam, meremehkan dan ceroboh yang akan membuat kita terlalu berkutak dengan apa yang akan kita hadapi. Bukan mencoba untuk menghadapinya,malah hanya berfikir tanpa melakukan hal lain. Tak ada yang salah dengan berikir, tapi kalau berfikir tanpa berbuat sesuatu hasil pemikiran kita hanya akan jadi beban yang membelenggu potensi yang kita miliki.

sumber :daveberns.wordpress.com
Dengan menutup celah kelemahan kita akan membuat sebuah kekuatan untuk menjadi bekal menghadapi setiap tantangan. Tak ada yang selalu berhasil, keberuntungan pun tak bisa mengubah hasil kalau tak ada kesiapan. Keberuntungan hanya akan berlaku jika kesempatan yang kita  miliki dimanfatkan denga kemampuan dan kesiapan. Teruslah mencoba, karna keberhasilan adalah percobaan yang dimatangkan berdasarkan kegagalan dari percobaan sebelumnya. Mari berkompetisi dengan tidak menjatuhkan orang lain, karna tanpa kompetitor takkan ada yang disebut pemenang. Dan keberhasilan kita tidak pernah bisa direngkuh karna hanya kita seorang, ada yang terlibat didalamnya. Mulailah bersikap baik kepada siapapun yang mencoba memberikan ilmunya, karna jika kita menolak kebaikan orang kelak kita akan mengemis untuk mendapatkannya dikesempatan lainnya.

Kamis, 01 Januari 2015

Pertama

       Assalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh, setelah sangat lama mengenal blog,baru hari ini memutuskan untuk membuatnya. Biasanya hanya menuliskan opini di media sosial, tapi letupan ide-ide yang terus bergejolak dikepala ini perlu penyaluran yang baik agar suatu saat nanti bisa jadi sarana bagi saya untuk mereview  apa yang saya pelajari.
     Antusias pertama kali ini bertepatan di hari pertama di tahun 2015, sebenarnya tak ada perencanaan khusus. Semoga saja dihari baik banyak hal-hal baik yang dapat menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik. Sangat naif jika manusia ingin menjadi lebih buruk dari sebelumnya, sekalipun mereka terbiasa berkelakuan tidak baik tapi saya yakin semua manusia menginginkan menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam hal apapun.
    Awal tahun 2015 disambut dengan suka cita, namun bukan berarti melupakan duka yang ada. Bukankah terjebak dalam duka itu hanya akan menghambat apa yang akan kita lakukan. Duka tetaplah duka, namun duka tak boleh menghambat pergerakan yang kita lakukan. Hambatan tak seharusnya jadi alasan untuk berhenti, jadikan hambatan tersebut sebgai batu lompatan untuk melangkah lebih jauh.
   Blog ini tidak direncanakan untuk maksud tertentu, hanya untuk menulis apa yang saya ketahui dari pembelajaran formal maupun informal. Silahkan bagi siapapun yang mau membagi ilmunya, bukankah apa yang kita pelajari akan lebih bermanfaat jika dibagi? ;). Saya membutuhkan banyak saran,komentar atau kritik dalam penulisan saya ini. Saya harap ini bisa jadi langkah baik untuk menjadi yang terbaik.Selamat membaca, semoga bisa saling berbagi.
     Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh