Jumat, 24 Juni 2016

Senandung Syahdu yang Berdengung


Senandung Syahdu yang Berdengung



Entahlah harus dengan usaha seperti apa lagi yang harus kukerahkan untuk menarik perhatianmu.Ditengah riuh kau pun tak sedikit bergeming menoleh kearahku, mungkin duniamu masih terlalu membutuhkanmu hingga kau tak ada waktu untuk beranjak dari altar kebesaranmu. Dunia yang begitu kau agungkan, dunia yang kau sanjung setinggi ego dan ambisimu. Dunia yang telah menjebakmu dan tak sekedar menyita seluruh perhatianmu, bahkan hati dan pikiranmu. Mungkin aku hanyalah sebuah lilin diantara gemerlapnya lampu megapolitan. Atau bahkan aku hanya sekedar dedaunan ditumpukam jerami lusuh.

Sepercik air selalu bisa membangunkanmu dari lelapnya mimpi indah. Seperti petir yang menyambar dalam badai ditengah padang pasir yang selalu menakutkan dan dianggap sebagai pertanda musibah. Ia selalu mencolok ditengah pesta topeng yang membosankan, meski harus dinikmati tapi akan tetap terasa jengah. Mengecewakan bukan jika harus terus berpura-pura? Yang kau nikmati bukannya setetes madu yang akan berikanmu sebuah anugerah. Tapi hanya akan jadi obat penenang yang akan membuatmu terlelap didalam mimpi buruk dan hanya membuatmu gelisah.

Aku bukanlah penggila alkohol dikala putus asa, bukan! Aku hanya pecandu kafein yang tergila-gila akan ketenangan dari bercangkir-cangkir latte dengan perisa hazelnut yang mungkin hanya akan membuatmu muntah. Pencitraan bukanlah cara tepat untuk merepresentasikan identitas, karna kebohongan hanya akan menunda kebenaran terungkap. Biarkan, biarkan airnya mengalir sampai tak adalagi daratan kering. Biar saja ia meresap sampai sanubari yang ringkih. Karna tak ada gunanya bendungan dibuat kalau bendungan tersebut dibangun hanya untuk memperlambat, bendungan tersebut hanya akan jadi serpihan-serpihan kenangan yang akan hilang bersama air yang berbuih.

Aku tak mau lagi bersandar pada ranting pohon yang kuat. Sudah saatnya aku menjadi penopang dari para egaliter yang bertekad. Aku sadar langit yang kita lihat masih sama, tapi jarak kita tak lagi dekat. Aneh bukan? Jarak hanyalah pembatas untuk pemalas yang tak beranjak dari ritme pemikiran singkat. Tapi karna jaraklah akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku mengejarmu hanya bermodalkan semangat. Berlaripun aku tak sanggup, jari-jari kakiku teralu lemah, bahkan kini kepalaku tak sanggup lagi untuk menengadah. Aku tak ingin jadi penyuplai kehidupan yang sewaktu-waktu menjadi penghambat. Aku bukanlah para pengerat yang hanya bisa merambat. Aku bisa saja menjadi pelari yang tercepat. Tapi aku khawatir kau hanya akan tersadar secara singkat dan menoleh selagi sempat.

Sebagai pemula yang bermimpi untuk bisa berada dipuncak, seperti kebanyakan orang yang memulai hal mudah dari bawah. Begitupun aku yang selalu seumbar untuk bertuah. Yang sekedar meramaikan kerumunan dengan banyak berulah. Yang tak lagi militan untuk banyak ucapkan bermacam sumpah serapah. Kini hanya tinggalah secerca kehendak yang menjadi dilema, tak lagi sama, tak lagi senada untuk bersua. Walaupun rasa ini terlalu sulit untuk tersuang karna yang ada hanya resah. Namun satu hal yang harus kau janjikan pada bintangmu, janganlah mudah tergoyah. Karna aku akan selalu mencoba untuk selalu menjadi reksa yang terakhir disaat kau gundah. Tak mengapa kalau harus aku yang meringis,terkikis,bahkan disaat kritis meski itu sangatlah susah.

Aku tak lagi mengerti kenapa aku harus cemburu kepada laut. Padahal laut tak pernah bisa menjadi arah tatapanmu disaat kau cemberut. Apa karena daratan yang sudah terlalu semrawut? Sehingga kau enggan berpaling dan hanya ingin melihat luasnya hamparan biru penuh ketenangan dengan selingan ombak yang saling menyaut. Apa? Kenapa? Siapa?...

Berharaplah, karna hanya dengan itu kita bisa tetap bersama. Meski bukan dalam satu masa, tapi kita bisa saja tetap bersua. Berdua, beriringan menuju singgasana mewah di khayalan para dewa. Berbagi kisah tentang peliknya sisi lain hidup yang begitu tragis tetapi tetap jadi hal teradiktif. Dengan kontradiksi penuh emosi yang menguras militansi untuk bisa tetap berekspresi. Yang tak kenal lelah agar bisa jadi yang paling serasi. Paling tidak kita beranggapan, karna opini bebas dimiliki siapapun yang mau berkreasi. Kamu dan aku, diantara mereka yang risih pada pemberontak tanpa afiliasi. Berpeganganlah yang erat, karna aku tak cukup sekedar berlari dan menghindar. Aku akan membawamu mendobrak kebiasaan para filsuf yang sudah lupa cara membumi. Kita tak akan lagi menyendiri, kita akan berteriak-teriak menyuarakan aspirasi. Walaupun dengan cara mandiri aku berujar akan menjadikanmu seorang puteri. Yang terus akan mengejutkanmu suatu saat nanti. Yang tak lagi kau berikan senyum getir. Yang membuatmu bisa berpaling. Yang tak kuasa lagi kau ragukan untuk jadi pendampingmu suatu saat nanti.



Ditulis dengan waktu sesingkat-singkatnya ditemani alunan lagu romantis  dari album “The Astonishing” milik band Dream Theater.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar