Rabu, 22 Juni 2016

Dedikasi atau mati

Dedikasi atau mati
Mungkin terdengar sangat klise jika para senior berujar “Berdedikasilah untuk tiap pekerjaan yang dilakukan.” Siapapun pasti akan menolak mentah-mentah jika menganggap bekerja adalah sebuah bagian dari bersenang-senang. Tekanan dari berbagai arah, tantangan dalam keseriusan, dan gesekkan dalam kerja sama seringkali membuat frustasi. Belum lagi kalau upah yang didapat tidak bisa memenuhi gaya hidup masa kini. Wajar saja jika “TGIF” dan “I Hate Monday” selalu bergema di awal dan akhir minggu. Setiap pekan yang ditunggu hanyalah hari libur, makin banyak tanggal merah adalah anugerah tersendiri.
Indonesia mempunyai sistem pendidikan yang unik, kita para pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi dibiasakan dengan dijejali teori-teori. Menyeragamkan berbagai hal dengan maksud para pelajar menjadi teratur guna mempermudah proses kegiatan belajar-mengajar. Mulai dari pakaian, grooming, etika, hingga pola pikir diseragamkan menganut kepada kurikulum yang berlaku. Mungkin keteraturan bisa mempermudah banyak hal, tapi jika keteraturan terebut dipaksakan Cuma hanya membatasi potensi bukan? Karna kenyataannya manusia diciptakan berbeda-beda, karena untuk menyusun puzzle diperlukan semua bentuk untuk bisa menyusunnya. Satu bentuk saja tapi banyak hanya akan membuat seleksi makin ketat dan banyaknya bagian puzzle yang terbuang. Dan itulah yang seringkali terjadi di kehidupan nyata.
Potensi-potensi dini yang dimiliki individu manusia bisa saja mati jika tidak dikembangkan, alih-alih mengembangkan sesuai porsinya pendidikan di Indonesia menurut saya malah mengarahkan ke arah yang disukai oleh sistem. Sehingga potensi tersebut tenggelam karna otak kita sibuk untuk beradaptasi pada hal-hal baru yang belum tentu sesuai dengan potensi yang kita miliki. Adaptif adalah sifat mahluk hidup manapun didunia ini, namun adaptasi memerlukan waktu dan usaha untuk bisa benar-benar nyaman. Ketimbang sibuk beradaptasi bukankah lebih baik mengasah potensi?
Bisa melakukan hal-hal menyenangkan adalah tujuan hidup semua manusia, namun hal yang menyenangkan pasti berdampingan dengan kesulitan. Seperti hiudp dan mati, yang tak pernah bisa terpisahkan. Banyak hal yang menyenangkan tapi tak semua bisa menemukan letak kesenangannya, kenapa? Apakah karna kesenangan hanya untuk orang beriman dengan dahi berwarna hitam? Atau hanya untuk mereka yang berkacamata tebal? Sungguh tak adil bukan jika kesenangan hanya dibagi untuk orang -orang tertentu? Semua pasti ingin bisa menikmatinya, dan rintangan seberat apapun pasti akan dihadpinya. Bisa senang sekaligus  menguntungkan adalah dambaan, apalgi bisa dengan sedikit perngorbanan saja banyak hal yang kita dapatkan. Contohnya dalam pekerjaan, seberapa besar kalian menyenangi apa yang kalian lakukan? Seberapa banyak kesenangannya ? Sudahkah kalian mulai ketagihan atas rutinitas kalian? Ataukah kalian menganggap hidup yang kalian jalani, rutinitas kehidupan kalian adalah hal membosankan?
 Saat ini entah kenapa saya selalu ketagihan untuk terus (memasak), padahal bidang ini bukanlah hal yang saya sukai pada awalnya. Sama sekali bukan, lambat-laun dengan banyaknya orang yang saya temui di bidang kuliner dan pariwisata dengan profesionalisme yang mereka tunjukkan, saya bisa mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, yaitu kecintaan terhadap kewajiban. Bukannya menjalani kewajiban dengan terpaksa, tapi malah mencintai kesukaran dan tantangan didalamnya. Mendedikasikan diri atas setiap pekerjaan yang dijalani, dengan profesional dan integritas yang tulus. Meyakini  hal yang kita lakukan bisa menghadirkan keceriaan, membuat kesulitan yang kita hadapi menjadi sebuah senyuman kepuasan. Adalah suatu kebanggan bisa berbuat baik tanpa merasa dirugikan, menghadapi tiap tantangan untuk hadirkan kepuasan.
 Tulisan ini merupakan bentuk rasa syukur atas pelajaran hidup yang saya dapatkan, bukan bermaksud untuk menggurui, hanya ingin sekedar berbagi. Dalam kurun waktu 90 menit sembari menyaksikan Jerman melawan Irlandia Utara di Piala Eropa 2016, dalam kantuk dan suntuk isi kepala saya dituangkan dalam suatu bentuk rasa syukur. Semoga kita tak sependapat, semoga berdebat bisa menjadikan kita kerabat. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar