Dedikasi
atau mati
Mungkin terdengar sangat klise jika
para senior berujar “Berdedikasilah untuk tiap pekerjaan yang dilakukan.”
Siapapun pasti akan menolak mentah-mentah jika menganggap bekerja adalah sebuah
bagian dari bersenang-senang. Tekanan dari berbagai arah, tantangan dalam
keseriusan, dan gesekkan dalam kerja sama seringkali membuat frustasi. Belum
lagi kalau upah yang didapat tidak bisa memenuhi gaya hidup masa kini. Wajar
saja jika “TGIF” dan “I Hate Monday” selalu bergema di awal dan akhir minggu.
Setiap pekan yang ditunggu hanyalah hari libur, makin banyak tanggal merah
adalah anugerah tersendiri.
Indonesia mempunyai sistem pendidikan
yang unik, kita para pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi
dibiasakan dengan dijejali teori-teori. Menyeragamkan berbagai hal dengan
maksud para pelajar menjadi teratur guna mempermudah proses kegiatan
belajar-mengajar. Mulai dari pakaian, grooming, etika, hingga pola pikir
diseragamkan menganut kepada kurikulum yang berlaku. Mungkin keteraturan bisa
mempermudah banyak hal, tapi jika keteraturan terebut dipaksakan Cuma hanya
membatasi potensi bukan? Karna kenyataannya manusia diciptakan berbeda-beda,
karena untuk menyusun puzzle diperlukan semua bentuk untuk bisa menyusunnya.
Satu bentuk saja tapi banyak hanya akan membuat seleksi makin ketat dan banyaknya
bagian puzzle yang terbuang. Dan itulah yang seringkali terjadi di kehidupan
nyata.
Potensi-potensi dini yang dimiliki
individu manusia bisa saja mati jika tidak dikembangkan, alih-alih
mengembangkan sesuai porsinya pendidikan di Indonesia menurut saya malah
mengarahkan ke arah yang disukai oleh sistem. Sehingga potensi tersebut
tenggelam karna otak kita sibuk untuk beradaptasi pada hal-hal baru yang belum
tentu sesuai dengan potensi yang kita miliki. Adaptif adalah sifat mahluk hidup
manapun didunia ini, namun adaptasi memerlukan waktu dan usaha untuk bisa
benar-benar nyaman. Ketimbang sibuk beradaptasi bukankah lebih baik mengasah
potensi?
Bisa melakukan hal-hal menyenangkan
adalah tujuan hidup semua manusia, namun hal yang menyenangkan pasti
berdampingan dengan kesulitan. Seperti hiudp dan mati, yang tak pernah bisa
terpisahkan. Banyak hal yang menyenangkan tapi tak semua bisa menemukan letak
kesenangannya, kenapa? Apakah karna kesenangan hanya untuk orang beriman dengan
dahi berwarna hitam? Atau hanya untuk mereka yang berkacamata tebal? Sungguh
tak adil bukan jika kesenangan hanya dibagi untuk orang -orang tertentu? Semua
pasti ingin bisa menikmatinya, dan rintangan seberat apapun pasti akan
dihadpinya. Bisa senang sekaligus
menguntungkan adalah dambaan, apalgi bisa dengan sedikit perngorbanan
saja banyak hal yang kita dapatkan. Contohnya dalam pekerjaan, seberapa besar
kalian menyenangi apa yang kalian lakukan? Seberapa banyak kesenangannya ?
Sudahkah kalian mulai ketagihan atas rutinitas kalian? Ataukah kalian
menganggap hidup yang kalian jalani, rutinitas kehidupan kalian adalah hal
membosankan?
Saat ini entah kenapa saya selalu ketagihan
untuk terus (memasak), padahal bidang ini bukanlah hal yang saya sukai pada awalnya.
Sama sekali bukan, lambat-laun dengan banyaknya orang yang saya temui di bidang
kuliner dan pariwisata dengan profesionalisme yang mereka tunjukkan, saya bisa
mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, yaitu kecintaan terhadap
kewajiban. Bukannya menjalani kewajiban dengan terpaksa, tapi malah mencintai
kesukaran dan tantangan didalamnya. Mendedikasikan diri atas setiap pekerjaan
yang dijalani, dengan profesional dan integritas yang tulus. Meyakini hal yang kita lakukan bisa menghadirkan
keceriaan, membuat kesulitan yang kita hadapi menjadi sebuah senyuman kepuasan.
Adalah suatu kebanggan bisa berbuat baik tanpa merasa dirugikan, menghadapi
tiap tantangan untuk hadirkan kepuasan.
Tulisan ini merupakan bentuk rasa syukur atas
pelajaran hidup yang saya dapatkan, bukan bermaksud untuk menggurui, hanya
ingin sekedar berbagi. Dalam kurun waktu 90 menit sembari menyaksikan Jerman
melawan Irlandia Utara di Piala Eropa 2016, dalam kantuk dan suntuk isi kepala
saya dituangkan dalam suatu bentuk rasa syukur. Semoga kita tak sependapat,
semoga berdebat bisa menjadikan kita kerabat. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar