Sabtu, 10 Januari 2015

Mereka Menyebut Dirinya Pahlawan Part 1


Mereka Menyebut Dirinya Pahlawan



2014

Rama ketika itu berumur 19 tahun, ia mengenakkan celana jeans, kaus berwarna cokelat dan membawa ransel besar yang telah kusam. Ia berjalan melewati sebuah gang disalah satu daerah kumuh di Jakarta. Mengamati para orang tua itu menenggak minuman dari botol berwarna hitam sambil bermain kartu. Ia terus berjalan,tapi pandangannya terhenti ketika ia bertatapan dengan salah satu pemain kartu berambut panjang yang dikuncir seperti buntut kuda. Ia segera mengalihkan pandangannya dan terus berjalan,mempercepat langkah kakinya agar tidak menjadi pusat perhatian.
Jakarta merupakan tempat mewujudkan impian bagi beberapa orang. Begitu banyak kesempatan berada dikota ini, pemusatan ekonomi yang dilakukan pemerintah menjadikan banyak orang berbondong-bondong mencoba peruntungannya dikota ini, akibatnya mereka yang kalah dalam persaingan memperebutkan kesempatan itu harus memutar otak untuk membuat kesempatan mereka sendiri.  Kesempatan itu ada yang dibuat dengan tujuan bermanfaat bagi orang lain, atau bahkan dengan cara memanfaatkan orang lain. Terkadang,kebutuhan mendesak kita berperilaku tak masuk akal, tak lagi memikirkan penilaian orang lain, dan cuma berusaha memenuhi ego masing-masing.

2012

Doni, Eko dan Pras ketika itu masih mengenyam pendidikan berlabelkan seragam abu-abu. Sama seperti kepribadian anak seumurannya yang memang masih abu-abu, mereka dihadapkan kepada pilihan untuk menjadi putih atau hitam. Mereka berkumpul disalah satu warung modern yang menjadi tempat nongkrong populer saat itu. Sambil menenggak minuman beralkohol import dan menghisap sebatang rokok putih mereka bercakap-cakap seperti halnya seorang pejabat bersih yang menginginkan negaranya bebas dari korupsi, menekan laju pertumbuhan ekonomi dan memiliki sumber daya manusia yang baik. Ya, mereka baru berusia 17 tahun dan bahkan belum menghadapi Ujian Nasional. Suguhan berita ditelevisi, surat kabar dan portal berita elektronik menjadikan masalah pemerintah jadi konsumsi rutin mereka. Media membuat permasalahan yang dihadapi pemerintah seakan menjadi permasalahan rakyatnya juga. Tak heran jadi banyak orang yang sok mencampuri berbagai permasalahan tersebut tanpa mau membantu menyelesaikannya.
“Eh banyak banget koruptor yang tertangkap ya?” Doni membuka obrolan.
“Ahh yang ketangkep kan cuma bawahannya aja, kan kita gak tahu kalo ternyata dia Cuma disuruh” Cela Pras.
Eko yang ketika itu sedang sibuk dengan ponsel importnya tidak mau menanggapi obrolan kedua temannya, ia lebih sibuk berdiskusi dengan teman-teman di jejaring sosialnya yang belum lama ia kenal. Beberapa orang memang lebih memilih menjaga silaturahminya dengan orang yang jauh ketimbang yang ada didepan matanya, mendekatkan yang dekat katanya.
Beberapa makhluk anti sosial bisa berubah 180 derajat karna teknologi, bisa mengubah apapun kecuali latar belakang. Mereka bisa saja berfikiran seperti halnya pejabat partai politik di gedung hijau, tapi mereka tetaplah pelajar yang punya kewajiban datang setiap pagi dan memakai seragam sesuai aturan. Sibuk berbincang mulai dari pejabat korup sampai supir angkutan umum yang memperkosa penumpangnya tiba-tiba saja Eko menggebrak meja.
“Kayanya bakalan asyik kalo kita bikin sesuatu supaya kita kelihatan keren nih” Kata Eko.
“Halah mau bikin apa sih lu? Emang kita punya bakat apaansih? Hah!!!” Cela Pras.
“Kita bikin organisasi semacam mafia, tapi mafia kan biasanya mengambil keuntungan dari orang lain, nah kita kebalikannya” Tambah Eko.
“Untungnya buat kita apaan? Jangan kebanyakan menghayal, gausah sok mau ngebantu orang deh” Doni dengan nada rendah menimpali omongan Eko.
“Yah jangan pikir untungnya dulu, tapi kebanggaannya. Masa elo gamau sih dihormatin sama adek kelas? Supaya kita kelihatan keren aja dimata orang lain” Dengan semangat seperti Wikana(Tokoh pejuang golongan muda dalam usaha memproklamirkan Kemerdekaan RI) Eko meyakinkan teman-temannya.
Akhirnya mereka sepakat membentuk organisasi mafia mereka, berbekal tontonan film luar negeri, mereka akhirnya melabeli organisasi mafia tersebut dengan nama  sekawan pahlawan. Mereka mendisukusikan hal-hal yang akan mereka lakukan esok hari disekolah. Mereka berangan-angan selayaknya mereka akan menghentikan dominasi Negara paman sam atas PT.Free Port di tanah Papua. Hal yang amat tak mudah dilakukan oleh pemerintah beberapa generasi sebelumnya sekalipun. Tapi mereka meyakini jika memulai melakukan kebaikan untuk orang lain adalah bentuk awal mendapatkan rasa hormat orang lain, karna bagaimanapun kebaikan didunia hanya akan dibalas dengan dua hal: Imbalan berupa harta atau penghormatan dari orang lain. Banyak orang melabeli dirinya dengan orang baik, tapi sebenarnya mereka lebih mudah berperilaku yang menyulitkan orang lain.





Kompetisi Mengasah Potensi


Kompetisi Mengasah Potensi


sumber : suzannita.wordpress.com



Kita adalah juara, tak ada yang dilahirkan untuk gagal. Hanya saja banyak yang berhenti mencoba dan akhirnya menyerah pada tantangan. Menyerah adalah bunuh diri bagi tentara didalam perang, tertangkap bagi para penjahat, kalah bagi mereka yang bertanding. Hal itulah yang membuat hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Berusaha bukanlah hal mudah, semua orang tahu banyak pengorbanan didalamnya. Pengorbanan tanpa totalitas malah bisa membuat hasil akhirnya lebih buruk.Tapi siapa yang peduli dengan prosesnya kalau hasil akhirnya diTuhankan? Cuma segelintir dari mereka yang punya cukup kompetensi untuk bisa tetap berusaha mengubah hasil akhir.
Makin banyaknya sumber daya dan sedikitnya peluang mengakibatkan kompetisi dari berbagai lini. Semua makhluk hidup saya pikir melakukannya, untuk apa? Agar mereka tetap bisa berada didalam siklus kehidupan. Tumbuhan berkompetisi untuk bisa bermanfaat, agar mereka tidak ditinggalkan dan akhirnya punah. Hewan saling berkompetisi untuk tetap hidup, memangsa dan melindungi dirinya dari pemangsa lain agar mereka tetap bisa menjaga eksistensinya. Semua makhluk hidup juga melakukan evolusi agar bisa beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Lantas kenapa kita enggan untuk melakukan percobaan baru agar bisa menjadi yang terdepan dalam kompetisi kehidupan ini?

sumber : wikipedia

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna ditata surya ini adalah penopang dan penentu siklus kehidupan lanjutan. Mungkin banyak yang beranggapan takdir adalah ancaman, tapi bukankah takdir bisa diubah dengan sebuah usaha? Bukankah kita diberi kesempatan untuk menentukkan takdir yang kita inginkan? Bahkan Tuhan saja memberi kesempatan bagi manusia untuk mengubah takdirnya, mengapa masih saja merelakan kesempatan yang diberikan?
Kita sudah memulai kompetisi dari dalam rahim, dan akan mengakhirinya sampai kesempatan itu kita serahkan kepada pemiliknya. Begitu banyak kompetisi yang kita hadapi, sadar atau tidak hal itu yang membentuk pola pikir dan perilaku kita untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Terus begitu sampai kita dihadapkan kepada kematian. Kompetisi mengajarkan kita untuk belajar cara untuk memenagkannya. Tentu semua mau jadi pemenang, tapi pemenang adalah dia yang punya kemampuan mengatasi dirinya dan apa yang dilawannya. Mereka yang menang adalah mereka yang belajar, mereka telah belajar memperbaiaki kelemahan dari kompetisi sebelumnya hingga akhirnya mereka bisa menutup celah kelemahan yang mereka miiki dan akhirnya mereka tak terkalahkan.
Kelemahan kita ada dari dalam diri kita. Iri, dendam, meremehkan dan ceroboh yang akan membuat kita terlalu berkutak dengan apa yang akan kita hadapi. Bukan mencoba untuk menghadapinya,malah hanya berfikir tanpa melakukan hal lain. Tak ada yang salah dengan berikir, tapi kalau berfikir tanpa berbuat sesuatu hasil pemikiran kita hanya akan jadi beban yang membelenggu potensi yang kita miliki.

sumber :daveberns.wordpress.com
Dengan menutup celah kelemahan kita akan membuat sebuah kekuatan untuk menjadi bekal menghadapi setiap tantangan. Tak ada yang selalu berhasil, keberuntungan pun tak bisa mengubah hasil kalau tak ada kesiapan. Keberuntungan hanya akan berlaku jika kesempatan yang kita  miliki dimanfatkan denga kemampuan dan kesiapan. Teruslah mencoba, karna keberhasilan adalah percobaan yang dimatangkan berdasarkan kegagalan dari percobaan sebelumnya. Mari berkompetisi dengan tidak menjatuhkan orang lain, karna tanpa kompetitor takkan ada yang disebut pemenang. Dan keberhasilan kita tidak pernah bisa direngkuh karna hanya kita seorang, ada yang terlibat didalamnya. Mulailah bersikap baik kepada siapapun yang mencoba memberikan ilmunya, karna jika kita menolak kebaikan orang kelak kita akan mengemis untuk mendapatkannya dikesempatan lainnya.

Kamis, 01 Januari 2015

Pertama

       Assalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh, setelah sangat lama mengenal blog,baru hari ini memutuskan untuk membuatnya. Biasanya hanya menuliskan opini di media sosial, tapi letupan ide-ide yang terus bergejolak dikepala ini perlu penyaluran yang baik agar suatu saat nanti bisa jadi sarana bagi saya untuk mereview  apa yang saya pelajari.
     Antusias pertama kali ini bertepatan di hari pertama di tahun 2015, sebenarnya tak ada perencanaan khusus. Semoga saja dihari baik banyak hal-hal baik yang dapat menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik. Sangat naif jika manusia ingin menjadi lebih buruk dari sebelumnya, sekalipun mereka terbiasa berkelakuan tidak baik tapi saya yakin semua manusia menginginkan menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam hal apapun.
    Awal tahun 2015 disambut dengan suka cita, namun bukan berarti melupakan duka yang ada. Bukankah terjebak dalam duka itu hanya akan menghambat apa yang akan kita lakukan. Duka tetaplah duka, namun duka tak boleh menghambat pergerakan yang kita lakukan. Hambatan tak seharusnya jadi alasan untuk berhenti, jadikan hambatan tersebut sebgai batu lompatan untuk melangkah lebih jauh.
   Blog ini tidak direncanakan untuk maksud tertentu, hanya untuk menulis apa yang saya ketahui dari pembelajaran formal maupun informal. Silahkan bagi siapapun yang mau membagi ilmunya, bukankah apa yang kita pelajari akan lebih bermanfaat jika dibagi? ;). Saya membutuhkan banyak saran,komentar atau kritik dalam penulisan saya ini. Saya harap ini bisa jadi langkah baik untuk menjadi yang terbaik.Selamat membaca, semoga bisa saling berbagi.
     Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh