Jumat, 20 Februari 2015

MENGHARAPKAN PERHATIAN

MENGHARAPKAN PERHATIAN
Kebisingan suara di jalan-jalan Jakarta bagaikan suara penonton konser yang meminta penampilnya membawakan bonus performance. Tak ayal budaya timur yang melekat kental kepada masyarakat seakan luluh-lantah, pergi menghilang tanpa kabar. Semua punya kesibukkan masing-masing dan memprioritaskan diri sendiri tanpa toleransi. Seorang wanita tua duduk ditepi trotoar sambil menadahkan sebuah mangkuk kecil dan menatap setiap orang yang lalu-lalang dijalan. Adakah yang peduli? Beruntung selalu ada orang-orang yang iba melihat ketidak beruntungan seseorang dan menyisihkan uang mereka untuk wanita tua tesebut. Tapi orang seperti itu tidaklah banyak, karena kebanyakan orang mengannggap dirinya selalu kekurangan untuk berbagi tapi selalu merasa cukup untuk membeli barang-barang mewah.



Image by : Google

Indonesia saat ini sedang rajin diguyur hujan, terutama Jakarta. Sebenarnya hujan bukanlah musibah, tapi karena ulah manusia yang mementingkan kehidupan mereka sendiri jadilah hujan lebat sebagai masalah tersendiri yang selalu diagendakan tiap tahun oleh masyarakat dan pemerintah. Sebuah siklus tahunan yang terencana, tapi masih belum terselesaikan. Hal yang agak aneh karena kita sebagai manusia bisa merencanakan musibah. Tentu saja musibah yang kita buat sendiri, dan ditanggung juga oleh orang lain. Selama bertahun-tahun tinggal diJakarta masyarakatnya masih saja ada yang mengeluh soal keadaan Jakarta. Terutama masalah banjir, mereka menghambur-hamburkan air tanah dimusim kemarau. Membuang sampah di saluran air didekat rumah, sengaja pergi keMall di hari Kerja bakti lingkungan dan masih mau menetap didaerah yang menjadi langganan banjir. Tapi mereka selalu mengeluh kepada pemerintah terkait atas banjir yang menggenagi area lingkungan tempat tinggal mereka. Logikanya kalau kita menanam pohon tanpa dirawat apakah pohon tesebut akan jadi besar dan bermanfaat? Lalu ketika pohon tersebut mati dan kita protes terhadap Tuhan, apakah Tuhan akan menjadikan pohon tersebut menjadi yang kita inginkan?
Image by Google
Terkadang kita terlalu angkuh sebagai manusia, menjadikan kita lalai akan masa depan. Berfikir singkat dan berusaha secara instant. Memperingkas tak selalu efektif untuk semua hal, dan biasanya yang dihilangkan dalam proses peringkasan tersebut adalah bagian-bagian sulit yang butuh waktu panjang. Mengakibatkan lupa kalau manusia itu berkembang biak dan bumi itu tidak. Ya banyak yang lupa kalau Albert Einstein dan Sir Isaac Newton sudah wafat sangat lama. Kita lupa atau mungkin belum sadar kalau aka nada terus bayi mungil yang lahir didunia ini dan butuh tempat tinggal. Kalau yang kita lakukan saat ini untuk membuat nyaman hidup kita saja maka kembalilah berfikir apakah kita sudah siap untuk jadi generasi terakhir dari garis keturunan umat manusia?
Image by: Google

Mengeluh adalah hal termudah yang bisa semua orang lakukan, mungkin sudah menjadi hobi bagi beberapa orang. Tapi apakah yang didapat setelah kita mengeluh? Bagaimanapun cara anda mengeluh hanya akan membuat anda dikasihani orang lain, dan takkan pernah berlangsung secara kontinu karna selalu ada titik jenuh. Sama halnya seperti kemacetan yang bukannya teselesaikan malah selalu ada masalah baru. Jenuh dengan kemacetan? Lalu apa yang kita lakukan? Berfoto ria dan mempublikasikannya kepada pihak terkait? Atau marah-marah terhadap petugas yang mencoba mengurai kemacetan? Apakah dengan semua tindakan tersebut  macet akan terurai? Apakah seketika semua kendaraan menghilang dan anda bisa melenggang santai sampai ketempat tujuan?

Image by Google
Kalau anda mengeluhkan kemacetan tapi tidak mau mengubah kebiasaan anda dalam berpergian maka jalanan yang lancar dan teratur seperti yang anda harapkan tidak akan terwujud. Anda berfikir biarlah orang lain yang mengubah kebiasaannya dulu, menunggu orang lain bertindak sesuatu terlebih dahulu. Maka sampai kapanpun Indonesia akan terus mengimpor minyak yang harganya terus melonjak, sampai entah kapan selalu ada yang berdemo menolak kenaikkan BBM bersubsidi.
 Manfaatkan fasilitas yang disediakan, patuhilah peraturan yang sudah dengan susah payah dibuat demi kenyamanan masyarakat. Memqng hal tersebut tidak menjamin apa yang anda harapkan terwujud, tapi bukankah adil jika kita sering menuntut kepada pemerintah yang kita anggap sebagai pelayan masyarakat kemudian kita membalasnya lebih dari sekedar membayar pajak. Membantu setiap program-program pemerintah, yang tentunya kita seleksi dahulu sesuai dengan pola pikir dan hidup kita masing-masing. Bukankah nyaman jika rakyat dan pemerintahnya saling berkontribusi untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang dahulu diperjuangak mati-matian oleh para pahlawan.
Tak ada lagi yang harus diminta jika semua sudah tercukupi, tak perlulah menuntut sesuatu yang diluar kemampuan dan akal sehat. Balaslah sesuai dengan kemampuan atas tiap tindakan yang orang lain lakukan, berbuat baik memang sulit tapi itu amat menyenangkan. Dan bukankah kesenangan yang kita cari selama hidup didunia? Jadilah pembeda disetiap kehadiranmu.


Selasa, 17 Februari 2015

Jangan Kacaukan Negeriku

Jangan Kacaukan Negeriku
Yang muda yang berbahaya. Bahkan Proklamator Republik Indonesia Bapak Insinyur Soekarno berujar “Berikan aku sepuluh pemuda,maka akan kugoncang duinia”. Jelas pemuda begitu amat berbahaya karena dalam usia produktif itu ada gejolak nafsu, semangat dan keinginan kuat dalam setiap diri manusia yang membuat akal sehat kaum tua seperti punting rokok diasbak. Usia muda adalah titik awal pembentukkan identitas manusia untuk menuju titik puncak atau jadi penghuni jurang keputus asaan. Begitu banyak prestasi yang bisa ditorehkan manusia ketika usianya muda, begitu menyenangkan ketika keberhasilan itu datang. Dan begitu hancur ketika kegagalan itu harus memilihnya sebagai alur cerita hidup manusia.

Mengapa ketika masih kecil kita sangat senang ketika berhasil memenangkan sebuah permainan “Galasin/gobak sodor” dilapangan dekat rumah bersama teman sebaya?

Image : www.triptrus.com
 Mengapa yang kalah tidak sesedih Lionel Messi ketika Argentina kalah di final Piala dunia 2014 di Brazil?
Image :  Bao Tailiang
 Saya merasa ketika kecil proses itu lebih penting ketimbang hasilnya.Ya walaupun institusi pendidikan di Negara ini tidak berfikir sama seperti saya. Ketika usia anak-anak kita tidak terlalu memikirkan nilai raport, tapi apakah orang tua kita berfikiran sama seperti anaknya? Hanya sebagian orang tua yang berfikir sepert itu. Sisanya menekankan HASIL raport yang terbaik, untuk apa? Kemungkinan besar untuk dipamerkan kepada orang tua lainnya. Membuat anak menjadi tertekan karena tak bisa menikmati prosesnya dan memaksakan hasil akhirnya saja, padahal dibalik itu ada proses panjang yang perlu diapresiasi. Tapi apakah hasilnya selalu bisa mengapresiasi prsesnya? Tentu tidak, sudah ada nepotisme didalmnya. Nepotisme yang menjadikan proses hanya sebagai penghias hasil. Sejak saat itulah kita mungkin terbiasa mengindahkan proses dan menekankan hasilnya. Turun-temurun dan membudaya dan akhirnya menjadi kebiasaan yang lumrah. Dan akhirnya kita akan menyalahkan orang yang mempunyai idealis tinggi terhadap proses.
Kenakalan adalah kesalahan yang didasari keingin tahuan, sebuah proses yang diberi toleransi tinggi dikehidupan bersosial. Lain hal kalau labelnya sudah menjadi kejahatan, toleransi yang tadinya selalu menemani seakan bersikap acuh. Sebuah proses yang mirip antara kenakalan dan kejahatan, hanya hasilnya saja yang membedakan. Mengapa kita selalu berpatokan dengan hasil? Mengapa harus menunggu hasilnya kalau kita tahu prosesnya sudah tidak baik? Jawabannya sama seperti orang tua yang ingin membanggakan nilai raport anakanya didepan orang tua murid lainnya. Kalau saja “Mencegah lebih baik daripada mengobati” tak hanya kita terapkan untuk kesehatan, maka penghakiman didunia oleh manusia tidak perlu serepot preman yang  melaporkan kejahatan kekantor kepolisian. Nampaknya menghakimi adalah kepuasaan bagi mereka yang haus akan kekuasaan, mereka bagai Tuhan yang bisa menghakimi ciptaan-NYA.
Image : wiji-thukul.blogspot.com

Kita hidup terdidik oleh kebiasaan bodoh yang diturunkan oleh penjahat berdasi yang menghakimi sesamanya. Mereka ingin pemuda tak bisa goyahkan kekuasaan miliknya, mereka acuhkan pembenaran atas kesalahannya. Agar mereka bisa berlama-lama berkuasa, menikmati setiap kemenangan semu atas lawan yang ingin jatuhkan. Membuat paham baru agar mereka bisa dikenang, bisa menjadi pahlawan dikemudian hari nanti. Membuat yang baik Cuma jadi penjahat dimata rakyat, dan membuat dirinya dielu-elukan bak pahlawan perang yang mengusir penjajah. Membunuh impian para pemimpi yang inginkan kesejahteraan.
Image : salt.btloc.com

Manusia memang tak seharusnya menghakimi sesama manusia, tapi orang yang merugikan orang banyak harus menyisihkan diri agar tak mewarisi  kebiasaan yang mengganggu akal sehat. Penguasa bukan berarti pemilik segalanya, mandat rakyat adalah alasan mereka bisa tertawa melihat kekisruhan yang terjadi. Semoga tak ada lagi suara yang terbungkam, semoga keinginan melawan tak hanya dimilikki mereka yang dirugikan.