Saat ini makanan adalah komoditi yang tidak hanya menjadi kebutuhan pokok
saja, sudah banyak orang yang beranggapan bahwa makan tidak hanya bertujuan
untuk mengenyangkan perut tetapi memuaskan hawa nafsu. Mengkonsumsi makanan
yang tadinya hanya erat sebagai kebutuhan menjadi sebuah gaya hidup melalui
penerapan-penerapan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Mulai dari
ditujukan untuk kesehatan, memperbaiki bentuk tubuh, hingga untuk sebuah
kebanggaan. Tidak heran jika perkembangan makanan bisa berkembang sangat cepat
dengan inovasi dan kreasi yang terus lahir setiap hari demi harinya.
Perkembangan dalam dunia makanan ini lahir atas tuntutan keadaan, dulu kala
orang-orang membuat masakan sebagai cara bertahan hidup. Kita tahu bahwa banyak
evolusi makanan mulai banyak lahir dari era peperangan. Ketika itu bahan
makanan menjadi salah satu komoditi berharga selain persenjataan tentunya. Seni
memasak mengalami kemajuan yang sangat pesat pada zaman raja Louis pada abad
XIV sehingga resep yang tadinya dibuat berdasarkan pengalaman mulai disusun
secara metodis dan menjadi suatu ilmu yang ditandai dengan munculnya
bermacam-macam buku resep masakan sampai saat ini masih terus berkembang (
Setiawati, 1993:8).
Dengan berkembangnya zaman yang membuka arus
informasi yang sangat luas, inovasi terhadap makanan juga semakin cepat. Metode-metode
dalam pengolahan bahan makanan sudah disesuiakan dengan gaya hidup manusia dan
perkembangan teknologinya. Jika di era 2500 SM manusia sudah mengenal roti
sebagai hidangan untuk para raja yang diolah dengan metode memasak dipanggang (baking)
sebagai makanan mewah yang disuguhkan
dalam perjamuan makan seperti yang ditemukan dalam sebuah lukisan kuno Mesir
yang bercerita Itjer duduk disebuah meja makan dengan beberapa potong roti (Egyptian Museum,Turin).
Maka disaat era modern sekarang
sudah berkembang metode memasak dengan menggunakan teknologi elektronik seperti
metode memasak sousvide. Metode memasak
sousvide adalah teknik memasak dengan mengisolasi nutrisi makanan menggunakan
plastik vakum yang dimasak dengan temperatur yang sangat rendah dalam waktu
yang lama. Metode memasak ini timbul dari sebuah permasalahan yang dialami oleh
chef Georges Pralus di tahun 1974 yang
ketika itu bekerja di restaurant Troisgros di Roanne, Perancis. Ia mengalami
masalah ketika harus memasak foie-gras (hati angsa) yang ketika
itu sangant populer, namun dalam pengolahannya ia mengalami masalah karena
makanan tersebut susut ketika dimasak. Kemudian ia mencoba bereksperimen dengan
cara membungkus bahan makanannya dalam sebuah plastik yang ditutup raat dan
memasukkannya dalam sebuah rendaman air hangat. (http://www.greatbritishchefs.com/features/sous-vide-history)
Dalam arus perkembangan makanan, bangsa Tiongkok
dan Italia sangat erat hubungannya dengan bahan makanan yang bersumber dari olahan
gandum. Jika di Tiongkok (Cina) gandum diolah menjadi berbagai olahan mie, di
italia olahan gandum yang diawetkan disebut dengan pasta. Walaupun kedua
makanan tersebut juga bisa dikatakan terinspirasi dari cara pengolahan bangsa
Arab (tergambar dalam lukisan kuno Mesir yang diambil dari dinding Tomb Of
Menna,Luxor)
Dalam penerapannya justru bangsa Sisilia-lah yang
mulai memproduksi pasta kering dalam jumlah besar diantara abad ke-11 sampai 13
masehi menurut studi yang dilakukan oleh Emilio Milano (Academia Barilla. PASTA!. Parma : 2010 . White Star Publiher). Pengolahan gandum menjadi pasta ini tidak lepas
dari sejarah perjalanan Marco Polo yang berkeliling dunia dan membawa budaya
dari berbagai daerah yang ditemuinya (terutama budaya Tiongkok) untuk diaplikasikan dengan keadaan di eropa
saat itu. Dengan menguatnya produksi yang dilakukan Sisilia saat itu, pada abad
ke-15 mereka sudah dapat mendistribusikan produk pastanya ke beberapa daerah
dan juga sudah mengontrol harga jualnya. Produksi pasta tidak hanya dilakukan
di daerah Sisilia, tetapi juga di kota Palermo, Napoli dan Genoa. Namun yang
menonjol ketika itu adalah ekspor yang dilakukan oleh Sisilia dan Genoa yang
sampai mengundang perhatian dari Presiden Amerika Serikat ke-3 Thomas Jefferson
(1801-1809). Hingga kini produksi pasta terus berkembang seiring dengan
perkembangan teknologi yang mampu mengoptimalkan produksi pasta melalui
mesin-mesin yang mempermudah dan bisa menghemat biaya dan penyebarannya sudah
hampir keseluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Penyebaran pasta di Indonesia
dipercaya berasal dari ekspansi Belanda di abad ke-16 yang datang ke Indonesia.
Referensi :
buku : Academia Barilla. PASTA!. Parma : 2010 . White Star Publiher
Lukisan : Slab stele from mastaba tomb of Itjer at Giza. 4th Dynasty, 2543-2435
BC. Itjer is seated at a table with slices of bread, shown vertical by
convention. Other offerings described in the text near the table are
incense, fruit, and wine. Excavations 1903 by Schiaparelli, S. 1849.
Egyptian Museum, Turin.
Lukisan :Egypt, Thebes, forking wheat, wall painting in the tomb of Menna, tomb no 69, circa 1422-1411 BC

