Rabu, 20 September 2017

Perkembangan Kultur Kuliner atas Keadaan Melalui Inovasi yang Adaptif





Saat ini makanan adalah komoditi yang tidak hanya menjadi kebutuhan pokok saja, sudah banyak orang yang beranggapan bahwa makan tidak hanya bertujuan untuk mengenyangkan perut tetapi memuaskan hawa nafsu. Mengkonsumsi makanan yang tadinya hanya erat sebagai kebutuhan menjadi sebuah gaya hidup melalui penerapan-penerapan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Mulai dari ditujukan untuk kesehatan, memperbaiki bentuk tubuh, hingga untuk sebuah kebanggaan. Tidak heran jika perkembangan makanan bisa berkembang sangat cepat dengan inovasi dan kreasi yang terus lahir setiap hari demi harinya.
Perkembangan dalam dunia makanan ini lahir atas tuntutan keadaan, dulu kala orang-orang membuat masakan sebagai cara bertahan hidup. Kita tahu bahwa banyak evolusi makanan mulai banyak lahir dari era peperangan. Ketika itu bahan makanan menjadi salah satu komoditi berharga selain persenjataan tentunya. Seni memasak mengalami kemajuan yang sangat pesat pada zaman raja Louis pada abad XIV sehingga resep yang tadinya dibuat berdasarkan pengalaman mulai disusun secara metodis dan menjadi suatu ilmu yang ditandai dengan munculnya bermacam-macam buku resep masakan sampai saat ini masih terus berkembang ( Setiawati, 1993:8).

Dengan berkembangnya zaman yang membuka arus informasi yang sangat luas, inovasi terhadap makanan juga semakin cepat. Metode-metode dalam pengolahan bahan makanan sudah disesuiakan dengan gaya hidup manusia dan perkembangan teknologinya. Jika di era 2500 SM manusia sudah mengenal roti sebagai hidangan untuk para raja yang diolah dengan metode memasak dipanggang (baking)  sebagai makanan mewah yang disuguhkan dalam perjamuan makan seperti yang ditemukan dalam sebuah lukisan kuno Mesir yang bercerita Itjer duduk disebuah meja makan dengan beberapa potong roti (Egyptian Museum,Turin).




 Maka disaat era modern sekarang sudah berkembang metode memasak dengan menggunakan teknologi elektronik seperti  metode memasak sousvide. Metode memasak sousvide adalah teknik memasak dengan mengisolasi nutrisi makanan menggunakan plastik vakum yang dimasak dengan temperatur yang sangat rendah dalam waktu yang lama. Metode memasak ini timbul dari sebuah permasalahan yang dialami oleh  chef Georges Pralus di tahun 1974 yang ketika itu bekerja di restaurant Troisgros di Roanne, Perancis. Ia mengalami masalah ketika harus memasak foie-gras (hati angsa) yang ketika itu sangant populer, namun dalam pengolahannya ia mengalami masalah karena makanan tersebut susut ketika dimasak. Kemudian ia mencoba bereksperimen dengan cara membungkus bahan makanannya dalam sebuah plastik yang ditutup raat dan memasukkannya dalam sebuah rendaman air hangat. (http://www.greatbritishchefs.com/features/sous-vide-history)  
Dalam arus perkembangan makanan, bangsa Tiongkok dan Italia sangat erat hubungannya dengan bahan makanan yang bersumber dari olahan gandum. Jika di Tiongkok (Cina) gandum diolah menjadi berbagai olahan mie, di italia olahan gandum yang diawetkan disebut dengan pasta. Walaupun kedua makanan tersebut juga bisa dikatakan terinspirasi dari cara pengolahan bangsa Arab (tergambar dalam lukisan kuno Mesir yang diambil dari dinding Tomb Of Menna,Luxor)
                Dalam penerapannya justru bangsa Sisilia-lah yang mulai memproduksi pasta kering dalam jumlah besar diantara abad ke-11 sampai 13 masehi menurut studi yang dilakukan oleh Emilio Milano (Academia Barilla. PASTA!. Parma : 2010 . White Star Publiher). Pengolahan gandum menjadi pasta ini tidak lepas dari sejarah perjalanan Marco Polo yang berkeliling dunia dan membawa budaya dari berbagai daerah yang ditemuinya (terutama budaya Tiongkok)  untuk diaplikasikan dengan keadaan di eropa saat itu. Dengan menguatnya produksi yang dilakukan Sisilia saat itu, pada abad ke-15 mereka sudah dapat mendistribusikan produk pastanya ke beberapa daerah dan juga sudah mengontrol harga jualnya. Produksi pasta tidak hanya dilakukan di daerah Sisilia, tetapi juga di kota Palermo, Napoli dan Genoa. Namun yang menonjol ketika itu adalah ekspor yang dilakukan oleh Sisilia dan Genoa yang sampai mengundang perhatian dari Presiden Amerika Serikat ke-3 Thomas Jefferson (1801-1809). Hingga kini produksi pasta terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang mampu mengoptimalkan produksi pasta melalui mesin-mesin yang mempermudah dan bisa menghemat biaya dan penyebarannya sudah hampir keseluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Penyebaran pasta di Indonesia dipercaya berasal dari ekspansi Belanda di abad ke-16 yang datang ke Indonesia.

Referensi : 
 
 buku : Academia Barilla. PASTA!. Parma : 2010 . White Star Publiher
 Lukisan : Slab stele from mastaba tomb of Itjer at Giza. 4th Dynasty, 2543-2435 BC. Itjer is seated at a table with  slices of bread, shown vertical by convention. Other offerings described in the text near the table are incense, fruit, and wine. Excavations 1903 by Schiaparelli, S. 1849. Egyptian Museum, Turin.
          Lukisan :Egypt, Thebes, forking wheat, wall painting in the tomb of Menna, tomb no 69, circa 1422-1411 BC