Senandung Syahdu yang
Berdengung
Entahlah harus
dengan usaha seperti apa lagi yang harus kukerahkan untuk menarik
perhatianmu.Ditengah riuh kau pun tak sedikit bergeming menoleh kearahku,
mungkin duniamu masih terlalu membutuhkanmu hingga kau tak ada waktu untuk
beranjak dari altar kebesaranmu. Dunia yang begitu kau agungkan, dunia yang kau
sanjung setinggi ego dan ambisimu. Dunia yang telah menjebakmu dan tak sekedar
menyita seluruh perhatianmu, bahkan hati dan pikiranmu. Mungkin aku hanyalah
sebuah lilin diantara gemerlapnya lampu megapolitan. Atau bahkan aku hanya
sekedar dedaunan ditumpukam jerami lusuh.
Sepercik air
selalu bisa membangunkanmu dari lelapnya mimpi indah. Seperti petir yang
menyambar dalam badai ditengah padang pasir yang selalu menakutkan dan dianggap
sebagai pertanda musibah. Ia selalu mencolok ditengah pesta topeng yang
membosankan, meski harus dinikmati tapi akan tetap terasa jengah. Mengecewakan
bukan jika harus terus berpura-pura? Yang kau nikmati bukannya setetes madu
yang akan berikanmu sebuah anugerah. Tapi hanya akan jadi obat penenang yang
akan membuatmu terlelap didalam mimpi buruk dan hanya membuatmu gelisah.
Aku bukanlah
penggila alkohol dikala putus asa, bukan! Aku hanya pecandu kafein yang
tergila-gila akan ketenangan dari bercangkir-cangkir latte dengan perisa
hazelnut yang mungkin hanya akan membuatmu muntah. Pencitraan bukanlah cara
tepat untuk merepresentasikan identitas, karna kebohongan hanya akan menunda
kebenaran terungkap. Biarkan, biarkan airnya mengalir sampai tak adalagi
daratan kering. Biar saja ia meresap sampai sanubari yang ringkih. Karna tak
ada gunanya bendungan dibuat kalau bendungan tersebut dibangun hanya untuk
memperlambat, bendungan tersebut hanya akan jadi serpihan-serpihan kenangan yang
akan hilang bersama air yang berbuih.
Aku tak mau
lagi bersandar pada ranting pohon yang kuat. Sudah saatnya aku menjadi penopang
dari para egaliter yang bertekad. Aku sadar langit yang kita lihat masih sama,
tapi jarak kita tak lagi dekat. Aneh bukan? Jarak hanyalah pembatas untuk
pemalas yang tak beranjak dari ritme pemikiran singkat. Tapi karna jaraklah
akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku mengejarmu hanya bermodalkan semangat.
Berlaripun aku tak sanggup, jari-jari kakiku teralu lemah, bahkan kini kepalaku
tak sanggup lagi untuk menengadah. Aku tak ingin jadi penyuplai kehidupan yang
sewaktu-waktu menjadi penghambat. Aku bukanlah para pengerat yang hanya bisa
merambat. Aku bisa saja menjadi pelari yang tercepat. Tapi aku khawatir kau
hanya akan tersadar secara singkat dan menoleh selagi sempat.
Sebagai pemula
yang bermimpi untuk bisa berada dipuncak, seperti kebanyakan orang yang memulai
hal mudah dari bawah. Begitupun aku yang selalu seumbar untuk bertuah. Yang
sekedar meramaikan kerumunan dengan banyak berulah. Yang tak lagi militan untuk
banyak ucapkan bermacam sumpah serapah. Kini hanya tinggalah secerca kehendak
yang menjadi dilema, tak lagi sama, tak lagi senada untuk bersua. Walaupun rasa
ini terlalu sulit untuk tersuang karna yang ada hanya resah. Namun satu hal
yang harus kau janjikan pada bintangmu, janganlah mudah tergoyah. Karna aku
akan selalu mencoba untuk selalu menjadi reksa yang terakhir disaat kau gundah.
Tak mengapa kalau harus aku yang meringis,terkikis,bahkan disaat kritis meski
itu sangatlah susah.
Aku tak lagi
mengerti kenapa aku harus cemburu kepada laut. Padahal laut tak pernah bisa
menjadi arah tatapanmu disaat kau cemberut. Apa karena daratan yang sudah
terlalu semrawut? Sehingga kau enggan berpaling dan hanya ingin melihat luasnya
hamparan biru penuh ketenangan dengan selingan ombak yang saling menyaut. Apa?
Kenapa? Siapa?...
Berharaplah,
karna hanya dengan itu kita bisa tetap bersama. Meski bukan dalam satu masa,
tapi kita bisa saja tetap bersua. Berdua, beriringan menuju singgasana mewah di
khayalan para dewa. Berbagi kisah tentang peliknya sisi lain hidup yang begitu
tragis tetapi tetap jadi hal teradiktif. Dengan kontradiksi penuh emosi yang
menguras militansi untuk bisa tetap berekspresi. Yang tak kenal lelah agar bisa
jadi yang paling serasi. Paling tidak kita beranggapan, karna opini bebas
dimiliki siapapun yang mau berkreasi. Kamu dan aku, diantara mereka yang risih
pada pemberontak tanpa afiliasi. Berpeganganlah yang erat, karna aku tak cukup
sekedar berlari dan menghindar. Aku akan membawamu mendobrak kebiasaan para
filsuf yang sudah lupa cara membumi. Kita tak akan lagi menyendiri, kita akan
berteriak-teriak menyuarakan aspirasi. Walaupun dengan cara mandiri aku berujar
akan menjadikanmu seorang puteri. Yang terus akan mengejutkanmu suatu saat
nanti. Yang tak lagi kau berikan senyum getir. Yang membuatmu bisa berpaling.
Yang tak kuasa lagi kau ragukan untuk jadi pendampingmu suatu saat nanti.
Ditulis dengan waktu
sesingkat-singkatnya ditemani alunan lagu romantis dari album “The Astonishing” milik band Dream
Theater.